Kamis, 12 Maret 2015

Belanda Tulen Berdarah Indo


         Membaca novel Remy Sylado seperti menemukan harta karun kata dalam tumpukan buku-buku sejarah yang dibiarkan usang dan teronggok di dalam kardus. Membaca novel ini pula tak ubahnya belajar bahasa asing. Karena saat membaca novel ini penulis menyisipkan dialog-dialog sederhana dengan berbagai dialek bahasa yang terkesan sengaja. Agar pembaca ikut menyelami alur cerita yang dibangun oleh Remy Sylado.

Novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan tebal 557 halaman. Sebagai pembaca, buku setebal itu tidak membuat pembacanya dirundung kebosanan. Apalagi hingga berujung pada suatu pilihan agar tidak melanjutkan bacaanya dan melirik ke bacaan lain.

Cerita mengalir dari seorang perempuan yang mengaku berdarah Indonesia yakni Mata Hari. Seperti pada halaman 9, “Aku Matahari. Aku pelacur tulen. Tapi aku penari sejati. Dan aku Belanda berdarah Indonesia.” Pada pembukaan cerita pembaca seolah digiring untuk mengenal siapa itu Mata Hari. Bagaimana kehidupannya? Dan apakah benar bahwa ia seorang pelacur? Mengapa ia memilih menjadi seorang pelacur? Lalu bagaimana bisa ia mengaku bahwa dirinya tak hanya berdarah Belanda tetapi juga berdarah Indonesia? Kesemua pertanyaan itu akan terjawab setelah kita membacanya.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Remy Sylado memang cenderung vulgar dan liar. Namun hal itu tidak sekonyong-konyong merusak rasa atau nilai estetika dari tulisannya. Hal itu dibuktikannya melalui kelahiran novelnya yang dicetak sampai dua kali.  Mungkin itu terletak pada kekuatan kata yang disuguhkan oleh Remy Sylado yang tak biasa. Penggalan-penggalan bahasa baik asing ataupun bahasa Indonesia yang jarang sekali digunakan di kehidupan sehari-hari bagai magic. Sehingga tak dapat dipungkiri pembaca dibuatnya jatuh cinta pada kata-katanya.

Remy Sylado ingin menyampaikan betapa kata yang dibikinya begitu bermakna. Seperti juga Mata Hari yang mendamba setiap kata dibalik bait-bait puisi. Bait-bait puisi romantis di dalam novel ini ditumpahkan Remy Sylado begitu indah. Baik itu hasil kutipan maupun buatanya sendiri. Setiap polemik kehidupan seorang Mata Hari tak terlepas dari puisi. Seperti pada kisah asmaranya dengan Maslov di puncak Candi Borobudur.

“Cintaku Mata Hari, jantung hati sayangAndai ada surya yang lebih terang dari namamuyang lebih ditunggu di musim winteryang lebih lama bersinar di musim somerjangan kasihkan pengharapan dengan katasenan laya gampang diucap pada malam harilantas dibuat ralat pada siang hariDatanglah kau dalam kenyangkumengisi laparku pada kemesraanKita bersatu dengan hati berpintu-pintudalam kesucian cinta yang tak terlafazkan.” (hal 499)

Namaku Mata Hari adalah novel yang berkisah tentang kehidupan di abad ke-19 hingga abad ke-20 Masehi. Margaretha Geertruida adalah nama asli Mata Hari. Ia adalah tokoh utama dalam cerita ini. Diusianya ke-18 tahun ia sudah memilih untuk menikah dengan seorang Opsir berkebangsaan Skot, John Rudolph MacLeod. Pernikahan itulah yang kemudian membawanya pulang ke tanah kelahiran ibunya Antje van der Meulen, Indonesia. Yang pada masa itu dijadikan sebagai Nederlandsch Indie, yang artinya Indianya Belanda atau dieja menurut bahasa melayu “Hindia Belanda” (13). Dan ia merekatkan tiap keping 
kerinduan pada tanah kelahiran Ibunya itu dengan menari.

Tokoh Mata Hari tercipta sebagai seorang perempuan yang memiliki dua kepribadian dan pekerjaan sekaligus. Ia mengakui mengapa menjadi seperti itu karena ulah suaminya. “Aku menjadi begini karena suamiku. Dialah yang mendorong aku berpikir cemar.” (Hal. 10).
Mata Hari bukanlah penari biasa sebab ia merangkap sebagai mata-mata rahasia. Remy Sylado menciptakan tokoh Mata Hari sebagai seorang perempuan yang berintelektual. Dalam hal ini Mata Hari dibekali dalam menguasai 7 bahasa sekaligus. Kemampuan bahasa yang dimilikinya menarik perhatian dua kubu yang sedang bersiteru. Menari dari satu negara ke negara lain dan melakukan diskusi bantal tanpa cinta dengan lelaki dari dua pihak kubu mampu mengharumkan namanya sebagai penari. Tentu diikuti oleh materi yang melimpah ruah begitu mudah didapatkannya.

Perjalanan hidup Mata Hari menjadi penari eksotik begitu yang diinginkan bila seseorang memanggilnya ketimbang menyebutnya penari erotik. Perjalanan Mata Hari menjadi kian dramatik saat ia kemudian dicekal oleh salah satu kubu bahwa ia telah berkhianat. Berkhianat seperti apa yang dilakukan oleh Mata Hari. Bacalah bukunya !(*)


Selasa, 10 Maret 2015

Separuh Usiaku untuk Berliterasi


          Sepagi itu hujan mengguyur Kota Serang. Namun hal itu tak mengubah rencana perjalananku untuk berangkat ke Jakarta. Meski sudah berulang kali menginjakkan kaki ke Senayan, tetapi kali ini, saya baru pertama kali ikut memestakan acara besar yang hanya bisa ditemui sekali dalam setahun yakni Islamic Book Fair 2015.
Kereta api jurusan patas Merak-Jakarta membawaku serta rombongan Rumah Dunia. Tepat pukul 06.55 WIB bunyi peluit panjang mengangkasa ke udara. Menembus pekatnya awan hitam. Meninggalkan stasiun Taman Sari, Serang. Suara derit gerbong dan roda yang menggilas besi semakin memantapkan niatku untuk menghabiskan weekend bersama teman-teman untuk berburu buku dan sekaligus mencari ilmu di Islamic Book Fair 2015. Salah satunya menghadiri bedah buku ‘Pasukan Matahari’ karya Gol A Gong.
Suara riuh pedagang berbagai makanan dan pengamen tak lagi kujumpai di dalam gerbong. Aku hanya mendapati wajah-wajah kegelisahan pada beberapa orang yang lalu lalang di depanku. Sekilas mereka seperti tengah dilanda ketakutan. Itu tampak jelas sekali terlihat dari gelagat mereka yang sesekali melempar pandang ke pintu gerbong.
Peristiwa itu berlangsung cukup lama. Hingga bangku memanjang layaknya di sebuah angkutan kota (angkot) kosong. Dan beberapa penumpang yang duduk diubin gerbong beringsut pindah. Adegan demi adegan di depan mataku tak ayal membuat hatiku ngilu dan iba. Tetapi, peraturan tetap peraturan. Mereka hanya rakyat kecil yang telah terbiasa mencari rupiah pada penumpang kereta api ekonomi.
Segera kusingkirkan perasaan yang menggelayuti hatiku. Memikirkan hal-hal yang pelik selama berada di dalam gerbong kereta membuatku ingin cepat keluar. Meski tawa terkadang pecah. Namun tak dapat kupungkiri bahwa akupun merasakan apa yang mereka tengah rasakan.
Selamat datang di Jakarta. Seruku dalam hati.  
Ya, akhirnya saya tiba di stasiun Pal Merah setelah 3 jam lamanya berada di dalam gerbong kereta.  Rupanya hujan yang mengguyur Serang telah membawa cuaca lain di Jakarta. Sehingga keputusan untuk menempuh Senayan dengan berjalan kaki pun seolah disambut baik oleh alam.
Hiruk pikuk kota Jakarta kian kentara saat kedua kaki saya memasuki gerbang Gelora Bung Karno (GBK). Salah satu kegiatan yang menarik perhatianku adalah sebuah kemunitas sepatu roda. Tua, muda jadi satu. Sepertinya usia bukan lagi batasan bagi mereka untuk menekuni dunia apapun. Sekalipun mereka disejajarkan dengan anak-anak di bawah umur.
Lalu pikiranku melambung jauh pada pilihanku yang tak sampai hati jika harus murtad. Seperti hari ini, meski seharian menempuh perjalanan ke Jakarta menggunakan kereta api guna merayakan pesta buku-buku islam di Senayan. Tak ada kata penyesalan atas tindakan yang kuambil. Seperti juga jalan hidup yang mengarahkanku pada dunia litearsi. Spirit literasi yang telah tertanam sejak usiaku 8 tahun karena bergabung di Rumah Dunia bagai mendarah daging di sumsumku. Mengalir di darahku. Kini, diusiaku yang ke-22 tahun masih saja kunikmati berjibaku dengan dunia literasi.

Rabu, 25 Februari 2015

Sisi Perempuan pada Existere


Membaca novel Existere karya Sinta Yudisia yang menyoroti soal perempuan membuat hatiku bergetar sekaligus gusar. Pasalnya perempuan-perempuan yang ada dalam cerita ini rela mengorbankan apapun. Sekalipun itu kesuciannya.
Kebahagiaan, ketulusan, kesendirian, keprihatinan, dan kepiluan yang mereka jalani tentu adalah nyata. Bukan fiksi belaka. Sinta ingin menekankan pada pembaca bahwa perempuan yang menceburkan diri ke dalam lembah hitam itu bukan karena kemauannya. Melainkan karena kemiskinan yang kian hari kian menjeratnya. Ia juga ingin menyampaikan bahwa orang-orang seperti mereka sebenarnya hidup dalam kegetiran dan ketakutan. Lalu mereka tak ingin kelaparan. Miris. “Lapar adalah ketika sepekan berturut tak ada makanan layak yang masuk perut. Lapar adalah ketika sedikit uang untuk membeli beras, terpaksa bergilir memakannya. Lapar adalah ketika lauk tempe, tahu, kecap, sayur kangkung, tak bisa beriringan. Jika siang memakan tahu dan sayur toge, jangan harap malam bisa makan lagi. Lapar adalah tumpukan utang di warung sekililing. Lapar adalah rasa malu, hina, dan harga diri. Lapar adalah rasa nyeri di ulu hati, perih di dada, mulut berdusta” (Hal 75).
Sebagai seorang perempuan yang dianugerahi intuisi oleh Tuhan sebagai makhluk yang amat peka dan perasa. Aku merasakan betul pergolakan batin seorang perempuan lewat berbagai konflik yang muncul. Jamilah (Milla), Almaida, dan Qoshirotu Thorfi (Ochi) menjadi pusat dalam cerita ini. Meski ceritanya tumpang tindih dan terkesan melompat-lompat dari cerita satu ke cerita lainnya namun buku setebal 365 lembar dengan jumlah episode 12 selesai kubaca.
Setiap sisi perempuan serasa dikupas tuntas oleh Sinta. Betapa Sinta ingin menguatkan kesannya pada pembaca bahwa perempuan itu tidak lemah. Sekalipun kemiskinan kian hari kian menghimpit Jamilah. Perempuan Tegal yang meninggalkan kampungnya dan memutuskan hijrah ke Surabaya. Agar keluarga tercintanya tak lagi digerogoti kemiskinan ia menerima tawaran Jean menjadi seorang pelacur profesional. Pernyataan Jamilah “Tak pernah keterbatasan membuat Jamilah dan adik-adiknya membenci kemiskinan.” (Hal 5)
Sosok Almaida dalam cerita ini pun kian menarik. Perempuan berparas cantik dan berjilbab adalah anak bungsu dari seorang pengusaha kaya raya. Kesempurnaan fisik dan kekayaan orang tuanya yang berlimpah ruah tak membuatnya merasa bahagia. Ibunya yang penuntut, kakaknya yang gila seks dan Ayahnya yang lemah pada isterinya. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam benak Almaida seperti pada hal. 57 “mungkinkah dirinya salah masuk ke keluarga ini? Jangan-jangan dirinya hanya anak adopsi yang kebetulan wajahnya mirip dengan Hepi.”
Sudut pandang Sinta terhadap perempuan digambarkannya dengan lugas, kuat dan apa adanya. Ia juga tak ketinggalan menanggalkan bumbu-bumbu romance dalam novel ini. Kisah percintaan sembunyi-sembunyi antara Waluyo dan Milla hingga terang-terangan dari seorang perempuan bernama Qoshirotu Thorfi (Ochi), Vanya dan Yassir. Kisah cinta segitiga antara Ochi, Vanya dan Yassir seolah memberi napas baru bagiku sebagai pembaca.
Banyak petuah-petuah yang menyentil soal agama islam. Dan itu tidak terkesan menyindir. Namun, memberikan pemahaman lain dalam menyikapi suatu permasalahan. Sentilan itu ditujukan kepada mereka yang berumah tangga. Seperti pada di hal. 250 “Adakalanya suami bukan teman, Nduk. Kadang-kadang suami malah jadi musuh. Satu-satunya teman kita hanya Gusti Allah. Bekal utama seorang isteri adalah kesabaran. Pernah Kanjeng Nabi memuji seorang perempuan yang lewat di depannya dan mengatakan ia calon penghuni surga karena sabar.”
Novel yang diterbitkan Lingkar Pena Kreativa tahun 2010 seolah menyibak mata hati dan batinku untuk menyikapi kehidupan nyata. Bahwa kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia adalah kuasaNya. Yang hidup berjibaku sebagai penjaja cinta, hidup dalam ketidakbahagiaan meski melimpah kekayaan hingga perempuan yang mendambakan sejatinya cinta karena tak dikarunia rahim yang sempurna. Semua karena kekuasaanNya.*



Sabtu, 21 Februari 2015

Sebuah Renungan


Siang itu matahari begitu terik. Kulit tangan hingga pori-pori kepalaku terasa seperti terbakar. Sesekali aku menyeka keringat yang membanjiri kening dan hidungku. Entah mengapa dadaku bergolak ketika ban roda dua menggilas jalan raya Cijawa. Dalam hati aku membatin mengapa di sepanjang jalan raya Cijawa pohon-pohonnya harus ditebangi. Padahal pohon-pohon yang berjejer di sepanjang bibir jalan raya itu sangat bermanfaat. Sekedar untuk melepas penat dan berteduh kala hujan datang tak terduga. Ya, pohon-pohon itu akan menjadi payung alam bagi pejalan dan pengayuh roda dua seperti aku ini.
Proyek pelebaran jalan yang sudah berjalan beberapa bulan belum juga kunjung selesai. Setelah Kebon Jahe dan Cijawa Masjid ditanami beton-beton menggantikan pepohonan. Takkan lama lagi pohon-pohon yang bejejer di bibir jalan Sekolah Menengah Kejuruan 1 dan 2 pun juga akan ditumbangkan. Beton-beton tertancap dan mengakar di tanah. Tidak ada akar pohon. Tidak ada penyerapan.
Apa jadinya jika pepohonan tak ada satupun yang berdiri kokoh di sana. Bukankah akar pepohonan dapat membantu proses penyerapan air. Bila tak ada pepohonan bukan tak mungkin jika hujan mengguyur maka banjir akan melumat aspal jalanan. Lalu siapa yang akan dirugikan. Kalau bukan kita si pengguna jalan kecil ini.
Perasaan yang kian berkecamuk dalam dada dan hati segera kusingkirkan. Aku tak mau bila terus menerus diliputi prasangka yang bukan-bukan, terlebih memandang arti sebuah kedudukan. Bagiku yang kuat hanya milik mereka yang berkuasa. Aku hanya satu diantara banyak masyarakat yang tidak memiliki kuasa penuh untuk mengubah apapun. Terlebih menata panggung kehidupan negeri ini.
Kehidupan yang sedang kujalani sudah rumit sekaligus pelik. Mengapa aku mesti menjejalinya lagi dengan hal-hal seperti itu. Lebih baik aku memikirkan cara agar aku dapat mengeluarkan adik-adikku dari jerat kemiskinan. Bukan miskin harta. Bukan. Tapi miskin percaya diri. 
Sebagai anak ke empat dari tujuh bersaudara, hanya aku yang melanjutkan sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Dan itu tidak mudah memang. Aku harus bergulat dengan berbagai argumentasi mulai dari pergolakan dalam keluarga hingga semua yang berada dalam tubuhku. Semuanya saling berdesakkan di kepalaku. Klimaknya aku meledakkannya dengan menyerahkan kepada sang Murabi. 
Aku tak pernah menyesal terlahir dari rahim seorang perempuan yang mengandalkan tenaganya sebagai tukang pijat. Lalu Bapak yang ketika masih muda dan kuat menyandang profesi sebagai pedagang ikan di pasar tradisional. Dari merekalah aku banyak belajar bagaimana menyikapi dan memaknai sebuah kehidupan. Dan dari mereka jualah aku banyak bercermin bagaimana sikap yang diambil saat  kemiskinan itu terus menyelimuti. Aku mematahkannya lewat membaca buku. Buku-buku yang kubaca nyatanya memang kian memantapkanku dalam memandang masa depan.

Kini diusiaku yang telah menginjak 22 tahun, aku sedang berusaha melawan kemiskinan. Tak hanya kemiskinan materi yang menghadangku tetapi ilmu dalam keluargaku. Demi sekolah, aku melakukan apapun. Asal tidak menjual diri. Aku akan menuntut ilmu setinggi mungkin.  Dan sebagai mahasiswa tingkat akhir kewajibanku hanya satu yakni mensegerakan kelulusan. Lalu menunaikan ikrar batin dan hati yang begitu mendamba untuk merantau.*

Minggu, 15 Februari 2015

Manusia Langit; Bukan Manusia Biasa


Untuk memperkuat pendapatku pada novel Manusia Langit karya J. A Sonjaya maka kubaca sekali lagi. Aku cermati setiap alur ceritanya. Bahkan sesekali aku akan mengulangi setiap kalimat yang dibangun penulisnya dengan seksama. Agar aku dapat menangkap maksud ceritanya.
Membaca novel etnografis yang diterbitkan oleh Kompas  setebal 207 halaman bercerita tentang manusia langit pada suku Banuaha di pulau Nias tak ubahnya sedang membuka buku sejarah. Meski si penulis meracik isinya dengan membumbuhkan alur cerita yang bergaya fiksi namun tetap saja ia tidak menghilangkan nilai-nilai filosofis di dalamnya. Betapa tidak ia ingin mengajak si pembaca untuk mengingatkan kembali kehidupan di masa prasejarah. Masa dimana keberlangsungan hidup manusia kala itu hanya melakukan berburu dan berladang (hal 33). Manakala tempat peburuannya telah habis maka mereka akan berpindah tempat. Sehingga tempat tinggal mereka tidak pernah nomaden.
Kemunculan tokoh perempuan Arab yang berparas cantik pada bagian prolog oleh si penulis bukan tak ada maksud sepertinya. Justru menjadi kekuatan yang mampu menarik si pembaca agar penasaran. Rasa penasaran yang datang begitu saja membuat si pembaca tak rela jika tak menuntaskan bacaannya.
Lalu si pembaca digelayuti pada berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan dalam pikiran si pembaca. Seperti siapakah perempuan yang berulang kali menitikkan air mata itu? Mengapa ia menitikan air mata setelah membaca buku itu? Buku apa sebenarnya yang dibaca oleh perempuan itu? Lalu apa hubungannya periuk dan bayi dengannya? Siapakah anak yang sedang terlelap di sampingnya? Semua pertanyaan ini akan satu persatu terjawab usai kita membacanya.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Mahendra. Seorang dosen arkeolog muda yang terkenal gila kerja diantara teman-temannya (hal 50). Kehidupannya hanya didedikasikan untuk belajar dan bekerja (hal 55). Tetapi, pendirian Hendra berubah seketika setelah mengenal Yasmin salah satu mahasiswinya.
Berawal dari diskusi kecil di kantin kampus. Lalu merambah ke tempat biliar di Cineta Jogya. Mereka yang selalu bersama-sama membuat kebersamaan yang berlangsung lama itu menumbuhkan benih-benih cinta. Ini dipertegas Hendra (hal 51), “Yasmin, setelah setahun kita sering bersama dan bicara, apakah itu tidak berarti buat Yasmin? Apakah Yasmin tidak menyadari bahwa kita saling suka?”
Pergolakan hati dan batin yang dirasakan Hendra semakin mengakar hingga ia mengukuhkan niatnya untuk melamar Yasmin segera. Sayang, rencana Hendra tidak disambut baik oleh kedua orang tua Yasmin. Hingga kejadian yang sama sekali tidak diinginkan Hendra terjadi. Yasmin mengandung. Itu ditegaskan oleh sms Yasmin sebelum dia benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.
‘Mas, aq skrg lg ngandung anak qt. Aq tdk mau ganggu hidup Mas yang sdh bgt  mapan. Jd, utk yg 1 ini biar aq yg nanggung sendiri. Tlg jgn cari aq’ (Hal 62).
Selang dua bulan Hendra mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Penemuan mayat perempuan yang diduga seorang mahasiswa terbujur kaku di sebuah kamar hotel di pusat kota Yogya. Hendra meyakini bahwa perempuan itu adalah Yasmin. Hatinya hancur. Ia patah hati. Hingga tak ayal ia dihinggapi rasa bersalah yang mendalam.
Yasmin dan kampus adalah sederet kenangan indah di kota pelajar yang terpaksa ditinggalkan Hendra. Bukan karena bosan, melainkan Hendra merasa ia tidak pantas hidup di universitas yang berisi orang-orang terhormat (hal 65). Kejadian yang telah memukulnya keras itulah kemudian mendamparkannya di dunia yang masih terisolasi.
Penemuan periuk bayi di ladang milik Pak Mbowo Laiya yang tengah diteliti oleh Hendra ternyata menguak cerita silam orang Belada yang telah lama punah. Dan masa lalu Hendra yang memilukan. Juga seorang anak suku Banuaha, Sayani.
“Ibarat  sedang menyusun kalimat, seorang arkeolog  harus menemukan benang merahnya dengan baik,” (Hal 3). Ya, seorang arkeolog adalah seseorang yang seharusnya mampu memecahkan suatu masalah. Seperti cerita yang masih diyakini akan kebenarannya hingga kini bahwa bayi-bayi di masa orang Balada di Pulau Nias dimakan oleh roh jahat.
“Menurutku yang membunuh bayi-bayi itu adalah para orang tua mereka, bukan roh jahat. Sekarang bayangkan, bagaimana sebuah keluarga bisa hidup berburu dan berpindah-pindah, sementara perempuanya masih menyusui dan melahirkan bayi? Untuk bertahan hidup, mau tidak mau yang paling lemah dikorbankan. Bayi-bayi yang lemah itu ditimbun atau dihanyutkan di sungai. Si orang tua kemudian berteriak histeris. Lalu mereka membuat cerita bahwa bayinya telah dibawa oleh rih jahat. Tidak ada yang meragukan cerita itu. tidak ada orang yang menyalahkan orang tua bayi yang malang itu.” (Hal 21), pendapat yang terlontar dari mulut Hendra saat diminta Ama Budi tak ayal membuat tubuh Sayani bagai disambar petir di siang bolong. Ia tidak benar-benar percaya. Tetapi setelah ia mendengar penuturan Ayahnya akan kebenaran itu.  “Sebenarnya hal itu yang ingin aku ceritakan kepada Sayani, tapi lidahku terasa sangat kaku karena kebohongan yang selalu kupendam di sini. Aku pun pernah melakukannya, aku pernah membunuh bayiku sendiri ketika kami masih sering bermukim di ladang. Itu anak kedua kami, bahkan kami belum sempat member nama.” (Hal 22)
Kepada Ama Budi kepingan-kepingan masa lalu akan nasib seorang perempuan yang sangat dicintainya menyeruak kembali. Dua tahun berada diantara orang-orang yang masih memegang kuat adat istiadat dengan sejarah nenek moyangnya yang kental. Tak membuatnya serta merta mengubur masa lalunya yang kelam. Perkenalan yang manis dengan perempuan Banuaha, Saita yang berujung pada perpisahan yang menyakitkan. Perpisahan yang memilukan di pulau Nias membawanya kembali pulang.  “Kamu harus kembali ke langitmu, bukan langitku.” (Hal 186)
Ia rindu Jogjya. Ia rindu hiruk pikuk berada di kampus. Ia rindu Yasmin. *


Kamis, 03 April 2014

Aku dan Rumah Dunia


Istana Mainan
Masih terekam jelas bayangan masa kecilku sebelum tergabung di Rumah Dunia. Keseharianku hanya diisi dengan banyak bermain. Istana sampah menjadi tempat favorit aku dan teman-temanku untuk berburu harta karun. Harta karun yang akan kami jadikan sebuah mainan. Meskipun sekedar berebut lembaran-lembaran plastik bekas makanan, atau bila beruntung aku bisa menemukan mainan yang masih layak pakai. Aku dan teman-temanku tetap bahagia.
Suatu hari, aku dan teman-temanku mendapati gadis kecil yang sedang bermain di depan rumahnya. Rambutnya sebahu dan agak ikal. Tapi dia cukup manis untuk anak seusia itu. Lalu ditangan kanannya ia sedang memegang bonekanya erat. Mirip sekali dengan tokoh kartun yang biasa kutonton di televisi.
Perkenalan yang singkat itu membuat kami kian dekat. Bella sapaan untuk gadis kecil itu kemudian mengajak kami untuk bermain dengannya. Tibalah kami di sebuah pekarangan rumah belakang, Bella memasukkan barbie di dalam rumah-rumahan besar yang bercat pink. Lalu dia menyuruh kami untuk mendekatinya. Kami sangat terkejut sambil berdecak kagum saat menginjakkan kaki di pasir. Hamparan pasir berisi mainan yang bertebaran dimana-mana. Inilah istana mainan sesungguhnya teman-teman? Lirihku dalam hati.
Kami memang anak-anak kampung yang belum pernah melihat langsung atau bahkan sampai memainkan mainan sebanyak itu. Dan kami benar-benar dibuat gadis kecil itu nyaman. Karena dia membolehkan kami untuk datang setiap hari dan bermain sesuka hati dengan mainan-mainan miliknya.
Angin segar yang berhembus akan keberadaan istana mainan rupanya memancing perhatian anak-anak sekitar. Entah siapa yang menyebarkannya. Laki-laki dan perempuan bergerombol mendatangi perkarangan. Mereka berdiri di depan pagar kayu yang tidak terkunci dan saling pandang antar temannya. Tanpa mengeluarkan aba-aba lagi Bella bangkit dari tempat bermainnya dan mengajak mereka masuk ke dalam.
Setiap hari selepas pulang Sekolah Agama atau selepas shalat ashar kami bermain di istana mainan hingga senja. Lambat laun mainan itu kian habis. Entah diambil siapa. Barangkali memang ada beberapa anak yang ingin memainkannya lebih lama lagi. Sehingga dia membawanya pulang. Istana mainan itu sudah tidak ada lagi dan kami kebingungan.

Istana Buku
Mainan-mainan yang biasa berserakan di atas pasir kini tidak tampak lagi. Yang ada hanya serak buku bacaan di gigir tembok. Meski pada awalnya kami ragu untuk membaca buku-buku di rak itu. karena penyebabnya adalah kami tidak terbiasa membaca buku selain buku pelajaran. Terlebih mempunyai buku-buku cerita. Namun, ketika seorang perempuan yang mengenakan baju kodok keluar bersamaan dengan Bella dari balik pintu besi, ia mengajakku dan teman-temanku untuk mendengarkannya mendongeng. Seketika keragu-raguan itu hilang. Hasrat  untuk membaca buku mengembara. Usai mendongeng, kami berebut buku di rak yang dibiarkan menyandar di tembok.
 Membaca buku cerita ternyata mengasyikkan. Tak hanya aku yang mengatakan demikian. Anak-anak yang lain pun mengatakan hal yang sama. Terlebih karena di dalam buku cerita itu terdapat gambar-gambar yang lucu dan cantik.
Waktu terus bergulir dengan cepat, hingga tidak terasa serak buku itu telah disulap menjadi sebuah istana buku. Buku-buku cerita semakin banyak, dan kami tidak lagi saling berebut buku yang sama untuk membacanya. Lalu kemudian beberapa kegiatan diselenggarakan setiap hari. Mulai dari kelas menggambar, mengarang, membuat puisi, menyanyi dan teater.
Kegiatan reguler Rumah Dunia telah menyita waktu bermainku. Ya, kami tidak lagi menghabiskan waktu setengah hari untuk bermain. Kami lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca atau mengasah kemampuan yang ternyata kami punyai. Tetapi, bukan berarti meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar yakni sekolah dan belajar. Kesukaan inilah yang kemudian membuatku belajar untuk lebih bijaksana dalam membagi waktu.  Sehingga kegiatan di sekolah, rumah dan Rumah Dunia terbagi rata.
Rumah Dunia tak ubahnya sebuah istana bagiku dan teman-temanku. Istana yang menyimpan banyak mimpi. Mimpi yang harus kami raih. Karena mimpi bukan lagi milik mereka orang-orang kaya saja. Tetapi, kami anak-anak kampung pun juga sama mempunyai mimpi.
Bukan menjadi alasan jika ekonomi pada setiap anak di Rumah Dunia lemah, ya hal ini tidak menjadikan kami semakin terpuruk. Oleh karenanya, kami tak segan untuk terus meningkatkan kemampuan pada setiap pertemuan di kegiatan reguler Rumah Dunia.  Kami yakin bahwa Rumah Dunia adalah tempat yang tepat untuk kami mengembangkan bakat dan menemukan keinginan kita. Kini, Rumah Dunia telah menciptakan suasana baru di kampungku.
 “Buku adalah jendela dunia. Jadi, jika kalian ingin tahu banyak hal tentang seluruh jagat raya ini, maka membacalah,” kata Enek mengakhiri dongengnya di pendopo.
Kini, berkat membaca aku berani bermimpi dan kini mimpi itu sedang aku rajut lewat Rumah Dunia.

                                                                                                   Dipersembahkan untuk HUT RD ke-12

Hadiah untuk Emak

Telah kutunaikan janjiku kepada Emak untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga di Jakarta. Menggendong cucu tersayangnya Kafi yang usianya sudah genap 4 tahun. Bahagia Emak seolah membayang dipelupuk mataku. Nyaris saja, namun seketika pudar saat aku membuka dompet beluduruku.

“Aku cuma punya selembar seratus ribu.” Lirihku dalam hati. Ya, Aku hanya mengantongi uang selembar seratus ribu-an saja. Rencananya uang itu akan kugunakan untuk perjalanan pergi dan pulang lagi ke Serang. Dengan berbekal niat dan tekad yang kuat, Insya Allah perjalanan ini akan berakhir bahagia. Padahal di dalam hatiku seringkali dirundung kegundahan dan kegelisahan akan keberangkatan ini. Terlebih karena Emak masih mengeluh kepalanya sakit.

“Ya Allah lindungi perjalanan kami, dan jagalah Emak di saat aku tidak lagi melihatnya.” Pintaku seusai shalat shubuh. Aku menengadahkan kedua tanganku lebih erat. Tak sengaja setitik air bening mengalir halus di pipiku. Aku tergugu di atas sejadah.

Langit masih diselimuti awan hitam. Udara dingin mulai menyergapku. Kokok ayam jantan sudah berlalu bersamaan dengan suara parau dizikir dari samping masjid sebelah rumahku. Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku bergegas mengeluarkan dua kardus dari dalam rumah dan kuletakkan ke atas meja kayu.

Aku mengayunkan kedua kaki menuju kamar Emak. Hatiku masih gelisah. Kubuka gorden hijau yang menggantung kokoh di atas kayu. Pelan-pelan aku masuk ke dalam.

“Nggak apa-apa ya kita naik kereta, Mak?” Aku membuka percakapan. Emak

mengangguk pelan. Ia masih membenahi pakaiannya. “Udah minum obat kan, Mak.” Tanyaku lagi memastikan.

“Iya, Alhamdulillah sudah.” Jawab Emak singkat.

“Gimana dengan sakit kepalanya, Mak. Apakah pagi ini kerasa lagi? Kalau masih kerasa sakit, kita tunda sampai lusa keberangkatannya, ya. Gimana?”

“Insya Allah, Nong. Ini sudah mendingan, kok.” Kata Emak sambil menyunggingkan senyuman. Meskipun aku tidak merasakan bagaimana keadaan Emak sesungguhnya namun lewat senyumnya mampu meredakan segala kegelisahan dan kegundahan yang kurasakan saat itu.

Pagi kian menyingsing, suara riuh segerombolan anak-anak berseragam merah putih dan biru datang dari arah mesin roda dua yang membawaku dan Emak ke stasiun. Salah satu dari mereka melemparkan senyuman kepadaku. Aku hanya mengangguk sambil melukis dua lesung dipipi. Mesin roda dua yang kami tumpangi kian melaju memacu kecepatanya. Menyibak jalan perkampungan yang sudah menggeliat dengan berbagai rutinitas masing-masing.

Tepat pukul 06.55 WIB ular besi jurusan angke tiba di stasiun Taman Sari. Aku terpaksa berlari kecil ke tempat pembelian tiket KA. Aku menyerahkan selembar sepuluh ribuan dan selembar dua ribuan. Tiga tiket sudah berpindah di tanganku. Segera aku menghampiri Emak dan adikku yang sudah menungguku di pintu masuk stasiun. Dan dengan cekatan aku meraih gagang pintu besi KA. Kemudian Emak dan disusul adikku.

Aku mengedarkan pandangan ke jejeran kursi abu-abu panjang yang terbagi menjadi dua bagian. Beberapa bangku dekat pintu gerbong sudah terisi penumpang. Aku melangkah maju ke tengah gerbong. Langkahku terhenti saat sebuah kursi di seberang sebelah kanan belum ada yang menempati. Kami bergegas menempatinya sebelum diambil alih oleh orang lain.

“Muat tiga orang nih, Mak.” Kataku pada Emak.

“Iya, asyik lagi deket jendela.” Adikku ikut menimpali.

 Bunyi peluit panjang mengangkasa ke udara. Gesekan antar roda dengan rel kian terasa di bawah kaki saat ular besi pelan-pelan beranjak dari stasiun. Menggilas rel. Mengikuti alurnya yang panjang. Kami duduk dibangku deretan kursi ke tiga dari pintu gerbong. Sesekali aku melempar pandang ke berbagai penjuru mata angin. Sekedar untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Dan ketika kedua bola mataku melirik ke sebelah kiri, aku mendapati Emak tengah melengkungkan dua garis dibibirnya. Kebahagiaan begitu terpancar di wajahnya. Sayang aku tidak mengabadikanya sebagai moment terindah kita jalan pertama menggunakan transportasi KA ya Mak.

Aku kembali terenyuh olehmu, Mak. Terlebih dengan kemampuanmu memijat, yang kamu dapatkan turun temurun dari nenek, yang kemudian dijadikan sebagai mata pencaharianmu untuk menyambung hidup kami. Namun, ketika sakit kepala itu datang dan tak kunjung mereda, Emak harus menghentikan memijatnya untuk sementara waktu.

“Allah masih sayang sama Emak. Buktinya Emak disuruh istirahat,” kataku suatu hari di ruang tamu. Emak yang sedang berbaring di kursi sebenarnya tahu kalau aku sedang memberi dukungan kepadanya agar ia tetap tegar dalam menghadapi cobaan ini.

“Lihat hamparan padi-padi yang sedang menguning di sana, Mak.”  Aku memecahkan keheningan di dalam kereta. Aku pegang tangan Emak pelan sembari menyelipkan permintaan maaf dalam hati. “Maafkan aku, Mak. Aku tidak memberikan kendaraan yang terbaik untukmu. Insya Allah, kelak aku akan memberikan yang lebih baik dari ini. Doakan aku ya, Mak.” Harapku.(*)