Kamis, 03 April 2014

Ketika Malam di Malioboro

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir mata kuliah English for Toursm, Universitas Banten Jaya melakukan perjalanan ke Jawa Tengah, Sabtu (04/05) sampai Senin (06/05). Tempat yang akan kami singgahi adalah beberapa tempat wisata yang sangat menarik tentunya.

Matahari rebah kepelukan sang timur. Saat kendaraan yang ditumpangi rombonganku menggilas jalanan utama menuju Malioboro, yang sudah mulai menampakkan kehidupannya ketika malam menjelang. Kerlap kerlip lampu jalanannya bertebaran tak ubahnya kunang-kunang di pedesaan. Menyapa kedatangan kami di tempat yang biasa dijadikan ikon kota Jogjakarta.

“Wah bagaimana ini, jalanannya macet sekali.” Kata Pak Jarwo tour guide rombongan kami mengeluhkan.

Aku tertunduk lesu mendengar ucapan yang meluncur dari mulut Pak Jarwo barusan. Jujur dalam hati, aku sangat kecewa dengan situasi ini. Bagaimana tidak, saat kaki ini sudah gatal ingin segera bercumbu dan menikmati malam dengan hiruk pikuk kendaraan yang bertaburan bagai laron, tiba-tiba mendapati situasi yang tidak diingini.

“Tapi, kita masih bisa memutar melewati Taman Bacaan Ceria. Meskipun jaraknya tidak sedekat dengan jalan yang tadi, soalnya kita harus jalan dulu untuk sampai di sana.” Terangnya sekali lagi.
Penjelasan Pak Sujarwo seketika membuat wajahku kembali berseri. Dan mampu mengobati rasa kekecewanku. Setidaknya itu adalah jalan keluar yang masuk diakal bukan. Karena hal itu sungguh di luar kekuasaan manusia, ketika lautan kendaraan membanjiri jalanan utama menuju Malioboro. Maka segeralah mengambil tindakan dengan mengganti route untuk bisa sampai ke tempat yang dituju. Itulah tugas seorang Tour Guide sesungguhnya.

Jam tangan dipergelangan tanganku telah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tetapi suasana hiruk pikuk lautan manusia malah semakin menjadi-jadi. Apakah karena ini malam minggu, sehingga suasananya berbeda dengan malam-malam lainnya. Entahlah.

Di sepanjang perjalanan menuju Malioboro mataku disuguhkan dengan berbagai bangunan-bangunan tua namun unik dan menarik. Apalagi saat cahaya lampu jatuh mengenainya dilengkapi dengan rerimbunan pepohonan rindang melukis bayangan kesempurnaan. Indah sekali.

Para pedagang yang berjejer di bibir jalan pun seolah tidak ingin ketinggalan moment penting ini, untuk mengais rupiah demi rupiah.. Mereka tidak perduli dengan para pedagang lainnya. Karena ketika berbicara soal rizki Tuhanlah yang berkuasa di sini.  Mereka menggelar daganganya mulai dari pakaian dan souvenir khas jogja, pernak-pernik gelang dan cincin, dan masih banyak lagi.

 “Inikah jalan Malioboro yang terkenal itu,” lirihku dalam hati saat kedua bola mataku saling berkejaran memotreti setiap lekuk tubuh Malioboro yang ramai dengan lautan manusia. Dengan segudang kreativitas yang bebas dituangkan oleh siapapun.

Langkah kedua kakiku mendadak terhenti. Ketika sebuah pertunjukan seni serupa dengan teater di kellilingi banyak orang. Sepertinya mereka terbentuk dari sekelompok atau komunitas penyuka seni. Mereka mampu menarik perhatianku untuk menyaksikannya. Mereka mengenakan kostum ala ‘halloween’ dengan memadupadankan dengan karakternya masing-masing. Sehingga pertunjukan yang mereka tampilkan membuatku inginku untuk segera mengabadikannya lewat jepretan kamera digital. Bahkan seolah-olah membiusku untuk berlama-lama berada di sana.

“Ayo, Uni?” Panggil seseorang dari balik kerumunan orang-orang. Ia datang menghampiriku dan langsung menggapit tanganku kananku. Aku berjalan tertatih-tatih mensejajarkan langkah kakinya yang cepat.
“Buruan atuh, ntar kita mencar lagi sama anak-anak yang lain.” Katanya sekali lagi dengan nada setengah memperingati.
“Iya, iya. Sabar atuh.” Ketusku. Aku kembali menyisir separuh perjalananku mengintari Malioboro. Dengan sejuta kata yang menggunung di dada dan tak sempat kucurahkan pada keeksotikan malam itu. Dalam langkah kakiku yang bernada, maka aku sampaikan pada jalanan menghitam jika aku diperbolehkan menginjakkan kaki tuk kembali, kuingin menyaksikan hal serupa dengan malam ini. Kota pelajar kukan merindumu.(*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar