Kamis, 20 Agustus 2015

Mendadak Ngartis


“Udah kayak artis beneran aja.” Batinku sambil tersenyum simpul. Kata-kata itu tak sengaja terlontar dari mulutku selesai diwawancarai oleh Net TV. Lalu pikiranku melambung jauh dimasa lalu. Hal serupa yang telah terjadi padaku beberapa tahun silam. Dan itu masih sangat kental diingatanku meski sudah 11 tahun lamanya.


Sekitar tahun 2004, ketika Rumah Dunia sedang menggeliat. Dan anak-anak kampung Ciloang benar-benar terjangkit virus buku dan sastra. Lebih dari 100 anak-anak datang silih berganti, walau hanya untuk sekedar membaca atau terjun setengah hari mengikuti kegiatan yang ada di Rumah Dunia. Lalu, salah satu dari mereka menarik perhatian sepasang suami-isteri yang sama-sama menyukai dunia menulis.

Mimpi Sauni adalah novel anak pertama yang dibuat oleh Gol A Gong dan Tias Tatanka tahun 2004. Cerita itu terinspirasi oleh gadis kecil yang berjualan kerupuk mie dan telah menjadi anggota di Rumah Dunia. Meskipun waktu yang dimilikinya terbagi-bagi namun ia tak pernah mangkir sehari pun datang dan ikut ke dalam kegiatan reguler di Rumah Dunia. Mungkin hal inilah yang membuat sepasang penulis itu menuliskan kisah hidupnya dan mimpinya.


Gadis kecil berambut pirang yang tiap hari menjajakan kerupuk mie dan selalu meletakkan baskom di atas kepala adalah penggambaran dari tokoh Sauni yakni diriku sendiri. Meski cerita itu dibumbui dengan fiksi tetapi tetap saja tiap kali aku membacanya buatku berkaca-kaca. Dan aku juga masih ingat ketika buku Mimpi Sauni launching di Mall daerah Depok, seseorang mengatakan bahwa buku itu bagus untuk dibaca meski mengundang kesedihan.


Suatu hari sebuah televisi swasta RCTI meminta izin untuk meliput kegiatan keseharianku. Hasilnya akan ditayangkan pada program Jalinan Kasih begitu kata mereka. Kemudian disusul dengan pembuatan sinetron Mimpi Sauni yang dibintangi oleh para artis mulai dari papan atas hingga yang baru menjejaki dunia keartisan. Dengar-dengar artis yang menjadi pemeran di Novel Mimpi Sauni itu tidak dibayar pada produksi pertama. Kampung Ciloang benar-benar dibuat geger saat PH (production house) melakukan syuting lengkap dengan artisnya.


Peristiwa 2004 itu masih manis tuk kukenang. Indah memang. Aku pun sempat tidak mempercayainya bila jadi mendadak artis. Tenarnya nggak kalah dengan artis di ibukota. Bahkan ketika masuk SMP beberapa guru menyebutku artis.

Setelah melewati fase itu. Kini aku seperti mendadak artis lagi. Meski tidak buming seperti dulu. Satu hal yang kini kutakuti adalah ketika kesombongan itu menghinggapiku. Sungguh aku tak ingin kesombongan itu berada di dalam tubuhku. Aku tetap menjadi Sauni, tutor dan relawan Rumah Dunia.* 

Jejak

Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebahagiaan akhirat harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) maka harus dengan ilmu. (H.R. Thabrani)

“Aku pengen kuliah teh” Kata Iyah suatu hari padaku.
“Wah bagus tuh. Nanti untuk bayar form-nya nggak usah dipikirin. Insya Allah teteh bantu.” Sambutku dengan senyum mengembang. Jujur aku begitu bahagia mendengar adikku mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.  Semangat yang adikku perlihatkan tampak jelas. Di saat itulah aku teringat pada diriku sendiri beberapa tahun silam. Yang begitu bersemangat ingin masuk kuliah.
Aku sangat bersyukur karena jejak pendidikan yang telah kuukir di dalam keluargaku kini tak hanya aku. Adikku yang ke enam pun akan mengikuti jejakku. Dia seorang perempuan yang baik. Dialah yang akan menjadi penerusku selanjutnya. Meskipun status perguruan tinggi dan jurusan yang kami tempuh berbeda. Namun kami yakin, garis yang Tuhan buat untuk kami adalah garis yang  akan menuntun kami pada pintu yang dijanjikanNya. 
Aku tak pernah menyesal dilahirkan dalam keluarga yang mendidikku agar mengubur dalam-dalam rasa malu. Terlebih persoalan keuangan. Aku pun tak menyesali jika dalam perjalanan hidupku banyak halangan dan rintangan. Bagiku halangan dan rintangan itu adalah ujian yang Tuhan berikan agar membuat hamba-hambanya tak berhenti mengingatNya. Seperti dalam hadis Ushul Al-Kafi: 255, di hadis itu menyebutkan bahwa Allah Swt akan mengingat dan menyayangi hamba mukmin dengan mengirimkan masalah dan kesulitan. Inilah bukti kecintaanNya padaku. Bahkan dalam hadis yang sama Ushul Al-Kafi: 253, menegaskan ketika Allah Swt mencintai seorang hamba, maka ia akan ditenggelamkan dalam kesulitan.
Jika kutarik waktu ke 13 tahun ke belakang,  untuk sampai ke tahap ini, aku akui memang Rumah Dunialah yang berperan besar mengubah sejarah dalam hidupku. Rumah Dunialah yang telah melepaskanku dari rantai kemiskinan ketidakpercayaan diri ini. Krisis kepercayaan diri yang tertanam dalam diriku adalah ketidakmungkinan akan sebuah kenyataan pahit, bahwa bagaimana mungkin seorang anak yang bapak dan ibunya hanya berprofesi sebagai tukang ikan di Pasar Tradisional dan tukang urut bisa memutus rantai kemiskinan terutama dalam bidang pendidikan.
Aku masih ingat sekali, saat pertama kali menginjakkan kaki di Rumah Dunia. Saat itu, tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk melanjutkan sekolah, apalagi hingga ke jenjang perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang masih terjerat oleh paradigma bahwa pendidikan itu tidak penting dan biayanya mahal. Lalu keadaan kampungku berubah 180 derajat setelah adanya Rumah Dunia. Seiring berjalannya waktu kebiasaan anak-anak di Kampungku tergantikan dengan aktivitas di luar kebiasaan mereka. Salah satunya adalah membaca. Dari proses membaca inilah aku menemukan secercah mimpi yakni ingin mengubah strata keluargaku lewat pendidikan. Dan Allah pun merestui pilihanku seperti pada firmanNya, “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan.” (Qs. Al-Mujadalah:11).
Oktober mendatang, aku akan secara resmi menyandang gelar S.Pd. di belakang namaku. Bagiku gelar yang bakal mengisi pada namaku itu bukan sekedar gelar. Tetapi, terkandung doa yang besar. Doa anak seorang tukang urut dan penjual ikan menjadi pendidik yang tidak hanya mendidik tetapi juga menuntun agar peserta didiknya menjadi manusia yang bermoral dan berpribadian mulia. Semoga.*







Kamis, 12 Maret 2015

Belanda Tulen Berdarah Indo


         Membaca novel Remy Sylado seperti menemukan harta karun kata dalam tumpukan buku-buku sejarah yang dibiarkan usang dan teronggok di dalam kardus. Membaca novel ini pula tak ubahnya belajar bahasa asing. Karena saat membaca novel ini penulis menyisipkan dialog-dialog sederhana dengan berbagai dialek bahasa yang terkesan sengaja. Agar pembaca ikut menyelami alur cerita yang dibangun oleh Remy Sylado.

Novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan tebal 557 halaman. Sebagai pembaca, buku setebal itu tidak membuat pembacanya dirundung kebosanan. Apalagi hingga berujung pada suatu pilihan agar tidak melanjutkan bacaanya dan melirik ke bacaan lain.

Cerita mengalir dari seorang perempuan yang mengaku berdarah Indonesia yakni Mata Hari. Seperti pada halaman 9, “Aku Matahari. Aku pelacur tulen. Tapi aku penari sejati. Dan aku Belanda berdarah Indonesia.” Pada pembukaan cerita pembaca seolah digiring untuk mengenal siapa itu Mata Hari. Bagaimana kehidupannya? Dan apakah benar bahwa ia seorang pelacur? Mengapa ia memilih menjadi seorang pelacur? Lalu bagaimana bisa ia mengaku bahwa dirinya tak hanya berdarah Belanda tetapi juga berdarah Indonesia? Kesemua pertanyaan itu akan terjawab setelah kita membacanya.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Remy Sylado memang cenderung vulgar dan liar. Namun hal itu tidak sekonyong-konyong merusak rasa atau nilai estetika dari tulisannya. Hal itu dibuktikannya melalui kelahiran novelnya yang dicetak sampai dua kali.  Mungkin itu terletak pada kekuatan kata yang disuguhkan oleh Remy Sylado yang tak biasa. Penggalan-penggalan bahasa baik asing ataupun bahasa Indonesia yang jarang sekali digunakan di kehidupan sehari-hari bagai magic. Sehingga tak dapat dipungkiri pembaca dibuatnya jatuh cinta pada kata-katanya.

Remy Sylado ingin menyampaikan betapa kata yang dibikinya begitu bermakna. Seperti juga Mata Hari yang mendamba setiap kata dibalik bait-bait puisi. Bait-bait puisi romantis di dalam novel ini ditumpahkan Remy Sylado begitu indah. Baik itu hasil kutipan maupun buatanya sendiri. Setiap polemik kehidupan seorang Mata Hari tak terlepas dari puisi. Seperti pada kisah asmaranya dengan Maslov di puncak Candi Borobudur.

“Cintaku Mata Hari, jantung hati sayangAndai ada surya yang lebih terang dari namamuyang lebih ditunggu di musim winteryang lebih lama bersinar di musim somerjangan kasihkan pengharapan dengan katasenan laya gampang diucap pada malam harilantas dibuat ralat pada siang hariDatanglah kau dalam kenyangkumengisi laparku pada kemesraanKita bersatu dengan hati berpintu-pintudalam kesucian cinta yang tak terlafazkan.” (hal 499)

Namaku Mata Hari adalah novel yang berkisah tentang kehidupan di abad ke-19 hingga abad ke-20 Masehi. Margaretha Geertruida adalah nama asli Mata Hari. Ia adalah tokoh utama dalam cerita ini. Diusianya ke-18 tahun ia sudah memilih untuk menikah dengan seorang Opsir berkebangsaan Skot, John Rudolph MacLeod. Pernikahan itulah yang kemudian membawanya pulang ke tanah kelahiran ibunya Antje van der Meulen, Indonesia. Yang pada masa itu dijadikan sebagai Nederlandsch Indie, yang artinya Indianya Belanda atau dieja menurut bahasa melayu “Hindia Belanda” (13). Dan ia merekatkan tiap keping 
kerinduan pada tanah kelahiran Ibunya itu dengan menari.

Tokoh Mata Hari tercipta sebagai seorang perempuan yang memiliki dua kepribadian dan pekerjaan sekaligus. Ia mengakui mengapa menjadi seperti itu karena ulah suaminya. “Aku menjadi begini karena suamiku. Dialah yang mendorong aku berpikir cemar.” (Hal. 10).
Mata Hari bukanlah penari biasa sebab ia merangkap sebagai mata-mata rahasia. Remy Sylado menciptakan tokoh Mata Hari sebagai seorang perempuan yang berintelektual. Dalam hal ini Mata Hari dibekali dalam menguasai 7 bahasa sekaligus. Kemampuan bahasa yang dimilikinya menarik perhatian dua kubu yang sedang bersiteru. Menari dari satu negara ke negara lain dan melakukan diskusi bantal tanpa cinta dengan lelaki dari dua pihak kubu mampu mengharumkan namanya sebagai penari. Tentu diikuti oleh materi yang melimpah ruah begitu mudah didapatkannya.

Perjalanan hidup Mata Hari menjadi penari eksotik begitu yang diinginkan bila seseorang memanggilnya ketimbang menyebutnya penari erotik. Perjalanan Mata Hari menjadi kian dramatik saat ia kemudian dicekal oleh salah satu kubu bahwa ia telah berkhianat. Berkhianat seperti apa yang dilakukan oleh Mata Hari. Bacalah bukunya !(*)


Selasa, 10 Maret 2015

Separuh Usiaku untuk Berliterasi


          Sepagi itu hujan mengguyur Kota Serang. Namun hal itu tak mengubah rencana perjalananku untuk berangkat ke Jakarta. Meski sudah berulang kali menginjakkan kaki ke Senayan, tetapi kali ini, saya baru pertama kali ikut memestakan acara besar yang hanya bisa ditemui sekali dalam setahun yakni Islamic Book Fair 2015.
Kereta api jurusan patas Merak-Jakarta membawaku serta rombongan Rumah Dunia. Tepat pukul 06.55 WIB bunyi peluit panjang mengangkasa ke udara. Menembus pekatnya awan hitam. Meninggalkan stasiun Taman Sari, Serang. Suara derit gerbong dan roda yang menggilas besi semakin memantapkan niatku untuk menghabiskan weekend bersama teman-teman untuk berburu buku dan sekaligus mencari ilmu di Islamic Book Fair 2015. Salah satunya menghadiri bedah buku ‘Pasukan Matahari’ karya Gol A Gong.
Suara riuh pedagang berbagai makanan dan pengamen tak lagi kujumpai di dalam gerbong. Aku hanya mendapati wajah-wajah kegelisahan pada beberapa orang yang lalu lalang di depanku. Sekilas mereka seperti tengah dilanda ketakutan. Itu tampak jelas sekali terlihat dari gelagat mereka yang sesekali melempar pandang ke pintu gerbong.
Peristiwa itu berlangsung cukup lama. Hingga bangku memanjang layaknya di sebuah angkutan kota (angkot) kosong. Dan beberapa penumpang yang duduk diubin gerbong beringsut pindah. Adegan demi adegan di depan mataku tak ayal membuat hatiku ngilu dan iba. Tetapi, peraturan tetap peraturan. Mereka hanya rakyat kecil yang telah terbiasa mencari rupiah pada penumpang kereta api ekonomi.
Segera kusingkirkan perasaan yang menggelayuti hatiku. Memikirkan hal-hal yang pelik selama berada di dalam gerbong kereta membuatku ingin cepat keluar. Meski tawa terkadang pecah. Namun tak dapat kupungkiri bahwa akupun merasakan apa yang mereka tengah rasakan.
Selamat datang di Jakarta. Seruku dalam hati.  
Ya, akhirnya saya tiba di stasiun Pal Merah setelah 3 jam lamanya berada di dalam gerbong kereta.  Rupanya hujan yang mengguyur Serang telah membawa cuaca lain di Jakarta. Sehingga keputusan untuk menempuh Senayan dengan berjalan kaki pun seolah disambut baik oleh alam.
Hiruk pikuk kota Jakarta kian kentara saat kedua kaki saya memasuki gerbang Gelora Bung Karno (GBK). Salah satu kegiatan yang menarik perhatianku adalah sebuah kemunitas sepatu roda. Tua, muda jadi satu. Sepertinya usia bukan lagi batasan bagi mereka untuk menekuni dunia apapun. Sekalipun mereka disejajarkan dengan anak-anak di bawah umur.
Lalu pikiranku melambung jauh pada pilihanku yang tak sampai hati jika harus murtad. Seperti hari ini, meski seharian menempuh perjalanan ke Jakarta menggunakan kereta api guna merayakan pesta buku-buku islam di Senayan. Tak ada kata penyesalan atas tindakan yang kuambil. Seperti juga jalan hidup yang mengarahkanku pada dunia litearsi. Spirit literasi yang telah tertanam sejak usiaku 8 tahun karena bergabung di Rumah Dunia bagai mendarah daging di sumsumku. Mengalir di darahku. Kini, diusiaku yang ke-22 tahun masih saja kunikmati berjibaku dengan dunia literasi.

Rabu, 25 Februari 2015

Sisi Perempuan pada Existere


Membaca novel Existere karya Sinta Yudisia yang menyoroti soal perempuan membuat hatiku bergetar sekaligus gusar. Pasalnya perempuan-perempuan yang ada dalam cerita ini rela mengorbankan apapun. Sekalipun itu kesuciannya.
Kebahagiaan, ketulusan, kesendirian, keprihatinan, dan kepiluan yang mereka jalani tentu adalah nyata. Bukan fiksi belaka. Sinta ingin menekankan pada pembaca bahwa perempuan yang menceburkan diri ke dalam lembah hitam itu bukan karena kemauannya. Melainkan karena kemiskinan yang kian hari kian menjeratnya. Ia juga ingin menyampaikan bahwa orang-orang seperti mereka sebenarnya hidup dalam kegetiran dan ketakutan. Lalu mereka tak ingin kelaparan. Miris. “Lapar adalah ketika sepekan berturut tak ada makanan layak yang masuk perut. Lapar adalah ketika sedikit uang untuk membeli beras, terpaksa bergilir memakannya. Lapar adalah ketika lauk tempe, tahu, kecap, sayur kangkung, tak bisa beriringan. Jika siang memakan tahu dan sayur toge, jangan harap malam bisa makan lagi. Lapar adalah tumpukan utang di warung sekililing. Lapar adalah rasa malu, hina, dan harga diri. Lapar adalah rasa nyeri di ulu hati, perih di dada, mulut berdusta” (Hal 75).
Sebagai seorang perempuan yang dianugerahi intuisi oleh Tuhan sebagai makhluk yang amat peka dan perasa. Aku merasakan betul pergolakan batin seorang perempuan lewat berbagai konflik yang muncul. Jamilah (Milla), Almaida, dan Qoshirotu Thorfi (Ochi) menjadi pusat dalam cerita ini. Meski ceritanya tumpang tindih dan terkesan melompat-lompat dari cerita satu ke cerita lainnya namun buku setebal 365 lembar dengan jumlah episode 12 selesai kubaca.
Setiap sisi perempuan serasa dikupas tuntas oleh Sinta. Betapa Sinta ingin menguatkan kesannya pada pembaca bahwa perempuan itu tidak lemah. Sekalipun kemiskinan kian hari kian menghimpit Jamilah. Perempuan Tegal yang meninggalkan kampungnya dan memutuskan hijrah ke Surabaya. Agar keluarga tercintanya tak lagi digerogoti kemiskinan ia menerima tawaran Jean menjadi seorang pelacur profesional. Pernyataan Jamilah “Tak pernah keterbatasan membuat Jamilah dan adik-adiknya membenci kemiskinan.” (Hal 5)
Sosok Almaida dalam cerita ini pun kian menarik. Perempuan berparas cantik dan berjilbab adalah anak bungsu dari seorang pengusaha kaya raya. Kesempurnaan fisik dan kekayaan orang tuanya yang berlimpah ruah tak membuatnya merasa bahagia. Ibunya yang penuntut, kakaknya yang gila seks dan Ayahnya yang lemah pada isterinya. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam benak Almaida seperti pada hal. 57 “mungkinkah dirinya salah masuk ke keluarga ini? Jangan-jangan dirinya hanya anak adopsi yang kebetulan wajahnya mirip dengan Hepi.”
Sudut pandang Sinta terhadap perempuan digambarkannya dengan lugas, kuat dan apa adanya. Ia juga tak ketinggalan menanggalkan bumbu-bumbu romance dalam novel ini. Kisah percintaan sembunyi-sembunyi antara Waluyo dan Milla hingga terang-terangan dari seorang perempuan bernama Qoshirotu Thorfi (Ochi), Vanya dan Yassir. Kisah cinta segitiga antara Ochi, Vanya dan Yassir seolah memberi napas baru bagiku sebagai pembaca.
Banyak petuah-petuah yang menyentil soal agama islam. Dan itu tidak terkesan menyindir. Namun, memberikan pemahaman lain dalam menyikapi suatu permasalahan. Sentilan itu ditujukan kepada mereka yang berumah tangga. Seperti pada di hal. 250 “Adakalanya suami bukan teman, Nduk. Kadang-kadang suami malah jadi musuh. Satu-satunya teman kita hanya Gusti Allah. Bekal utama seorang isteri adalah kesabaran. Pernah Kanjeng Nabi memuji seorang perempuan yang lewat di depannya dan mengatakan ia calon penghuni surga karena sabar.”
Novel yang diterbitkan Lingkar Pena Kreativa tahun 2010 seolah menyibak mata hati dan batinku untuk menyikapi kehidupan nyata. Bahwa kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia adalah kuasaNya. Yang hidup berjibaku sebagai penjaja cinta, hidup dalam ketidakbahagiaan meski melimpah kekayaan hingga perempuan yang mendambakan sejatinya cinta karena tak dikarunia rahim yang sempurna. Semua karena kekuasaanNya.*



Sabtu, 21 Februari 2015

Sebuah Renungan


Siang itu matahari begitu terik. Kulit tangan hingga pori-pori kepalaku terasa seperti terbakar. Sesekali aku menyeka keringat yang membanjiri kening dan hidungku. Entah mengapa dadaku bergolak ketika ban roda dua menggilas jalan raya Cijawa. Dalam hati aku membatin mengapa di sepanjang jalan raya Cijawa pohon-pohonnya harus ditebangi. Padahal pohon-pohon yang berjejer di sepanjang bibir jalan raya itu sangat bermanfaat. Sekedar untuk melepas penat dan berteduh kala hujan datang tak terduga. Ya, pohon-pohon itu akan menjadi payung alam bagi pejalan dan pengayuh roda dua seperti aku ini.
Proyek pelebaran jalan yang sudah berjalan beberapa bulan belum juga kunjung selesai. Setelah Kebon Jahe dan Cijawa Masjid ditanami beton-beton menggantikan pepohonan. Takkan lama lagi pohon-pohon yang bejejer di bibir jalan Sekolah Menengah Kejuruan 1 dan 2 pun juga akan ditumbangkan. Beton-beton tertancap dan mengakar di tanah. Tidak ada akar pohon. Tidak ada penyerapan.
Apa jadinya jika pepohonan tak ada satupun yang berdiri kokoh di sana. Bukankah akar pepohonan dapat membantu proses penyerapan air. Bila tak ada pepohonan bukan tak mungkin jika hujan mengguyur maka banjir akan melumat aspal jalanan. Lalu siapa yang akan dirugikan. Kalau bukan kita si pengguna jalan kecil ini.
Perasaan yang kian berkecamuk dalam dada dan hati segera kusingkirkan. Aku tak mau bila terus menerus diliputi prasangka yang bukan-bukan, terlebih memandang arti sebuah kedudukan. Bagiku yang kuat hanya milik mereka yang berkuasa. Aku hanya satu diantara banyak masyarakat yang tidak memiliki kuasa penuh untuk mengubah apapun. Terlebih menata panggung kehidupan negeri ini.
Kehidupan yang sedang kujalani sudah rumit sekaligus pelik. Mengapa aku mesti menjejalinya lagi dengan hal-hal seperti itu. Lebih baik aku memikirkan cara agar aku dapat mengeluarkan adik-adikku dari jerat kemiskinan. Bukan miskin harta. Bukan. Tapi miskin percaya diri. 
Sebagai anak ke empat dari tujuh bersaudara, hanya aku yang melanjutkan sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Dan itu tidak mudah memang. Aku harus bergulat dengan berbagai argumentasi mulai dari pergolakan dalam keluarga hingga semua yang berada dalam tubuhku. Semuanya saling berdesakkan di kepalaku. Klimaknya aku meledakkannya dengan menyerahkan kepada sang Murabi. 
Aku tak pernah menyesal terlahir dari rahim seorang perempuan yang mengandalkan tenaganya sebagai tukang pijat. Lalu Bapak yang ketika masih muda dan kuat menyandang profesi sebagai pedagang ikan di pasar tradisional. Dari merekalah aku banyak belajar bagaimana menyikapi dan memaknai sebuah kehidupan. Dan dari mereka jualah aku banyak bercermin bagaimana sikap yang diambil saat  kemiskinan itu terus menyelimuti. Aku mematahkannya lewat membaca buku. Buku-buku yang kubaca nyatanya memang kian memantapkanku dalam memandang masa depan.

Kini diusiaku yang telah menginjak 22 tahun, aku sedang berusaha melawan kemiskinan. Tak hanya kemiskinan materi yang menghadangku tetapi ilmu dalam keluargaku. Demi sekolah, aku melakukan apapun. Asal tidak menjual diri. Aku akan menuntut ilmu setinggi mungkin.  Dan sebagai mahasiswa tingkat akhir kewajibanku hanya satu yakni mensegerakan kelulusan. Lalu menunaikan ikrar batin dan hati yang begitu mendamba untuk merantau.*

Minggu, 15 Februari 2015

Manusia Langit; Bukan Manusia Biasa


Untuk memperkuat pendapatku pada novel Manusia Langit karya J. A Sonjaya maka kubaca sekali lagi. Aku cermati setiap alur ceritanya. Bahkan sesekali aku akan mengulangi setiap kalimat yang dibangun penulisnya dengan seksama. Agar aku dapat menangkap maksud ceritanya.
Membaca novel etnografis yang diterbitkan oleh Kompas  setebal 207 halaman bercerita tentang manusia langit pada suku Banuaha di pulau Nias tak ubahnya sedang membuka buku sejarah. Meski si penulis meracik isinya dengan membumbuhkan alur cerita yang bergaya fiksi namun tetap saja ia tidak menghilangkan nilai-nilai filosofis di dalamnya. Betapa tidak ia ingin mengajak si pembaca untuk mengingatkan kembali kehidupan di masa prasejarah. Masa dimana keberlangsungan hidup manusia kala itu hanya melakukan berburu dan berladang (hal 33). Manakala tempat peburuannya telah habis maka mereka akan berpindah tempat. Sehingga tempat tinggal mereka tidak pernah nomaden.
Kemunculan tokoh perempuan Arab yang berparas cantik pada bagian prolog oleh si penulis bukan tak ada maksud sepertinya. Justru menjadi kekuatan yang mampu menarik si pembaca agar penasaran. Rasa penasaran yang datang begitu saja membuat si pembaca tak rela jika tak menuntaskan bacaannya.
Lalu si pembaca digelayuti pada berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan dalam pikiran si pembaca. Seperti siapakah perempuan yang berulang kali menitikkan air mata itu? Mengapa ia menitikan air mata setelah membaca buku itu? Buku apa sebenarnya yang dibaca oleh perempuan itu? Lalu apa hubungannya periuk dan bayi dengannya? Siapakah anak yang sedang terlelap di sampingnya? Semua pertanyaan ini akan satu persatu terjawab usai kita membacanya.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Mahendra. Seorang dosen arkeolog muda yang terkenal gila kerja diantara teman-temannya (hal 50). Kehidupannya hanya didedikasikan untuk belajar dan bekerja (hal 55). Tetapi, pendirian Hendra berubah seketika setelah mengenal Yasmin salah satu mahasiswinya.
Berawal dari diskusi kecil di kantin kampus. Lalu merambah ke tempat biliar di Cineta Jogya. Mereka yang selalu bersama-sama membuat kebersamaan yang berlangsung lama itu menumbuhkan benih-benih cinta. Ini dipertegas Hendra (hal 51), “Yasmin, setelah setahun kita sering bersama dan bicara, apakah itu tidak berarti buat Yasmin? Apakah Yasmin tidak menyadari bahwa kita saling suka?”
Pergolakan hati dan batin yang dirasakan Hendra semakin mengakar hingga ia mengukuhkan niatnya untuk melamar Yasmin segera. Sayang, rencana Hendra tidak disambut baik oleh kedua orang tua Yasmin. Hingga kejadian yang sama sekali tidak diinginkan Hendra terjadi. Yasmin mengandung. Itu ditegaskan oleh sms Yasmin sebelum dia benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.
‘Mas, aq skrg lg ngandung anak qt. Aq tdk mau ganggu hidup Mas yang sdh bgt  mapan. Jd, utk yg 1 ini biar aq yg nanggung sendiri. Tlg jgn cari aq’ (Hal 62).
Selang dua bulan Hendra mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Penemuan mayat perempuan yang diduga seorang mahasiswa terbujur kaku di sebuah kamar hotel di pusat kota Yogya. Hendra meyakini bahwa perempuan itu adalah Yasmin. Hatinya hancur. Ia patah hati. Hingga tak ayal ia dihinggapi rasa bersalah yang mendalam.
Yasmin dan kampus adalah sederet kenangan indah di kota pelajar yang terpaksa ditinggalkan Hendra. Bukan karena bosan, melainkan Hendra merasa ia tidak pantas hidup di universitas yang berisi orang-orang terhormat (hal 65). Kejadian yang telah memukulnya keras itulah kemudian mendamparkannya di dunia yang masih terisolasi.
Penemuan periuk bayi di ladang milik Pak Mbowo Laiya yang tengah diteliti oleh Hendra ternyata menguak cerita silam orang Belada yang telah lama punah. Dan masa lalu Hendra yang memilukan. Juga seorang anak suku Banuaha, Sayani.
“Ibarat  sedang menyusun kalimat, seorang arkeolog  harus menemukan benang merahnya dengan baik,” (Hal 3). Ya, seorang arkeolog adalah seseorang yang seharusnya mampu memecahkan suatu masalah. Seperti cerita yang masih diyakini akan kebenarannya hingga kini bahwa bayi-bayi di masa orang Balada di Pulau Nias dimakan oleh roh jahat.
“Menurutku yang membunuh bayi-bayi itu adalah para orang tua mereka, bukan roh jahat. Sekarang bayangkan, bagaimana sebuah keluarga bisa hidup berburu dan berpindah-pindah, sementara perempuanya masih menyusui dan melahirkan bayi? Untuk bertahan hidup, mau tidak mau yang paling lemah dikorbankan. Bayi-bayi yang lemah itu ditimbun atau dihanyutkan di sungai. Si orang tua kemudian berteriak histeris. Lalu mereka membuat cerita bahwa bayinya telah dibawa oleh rih jahat. Tidak ada yang meragukan cerita itu. tidak ada orang yang menyalahkan orang tua bayi yang malang itu.” (Hal 21), pendapat yang terlontar dari mulut Hendra saat diminta Ama Budi tak ayal membuat tubuh Sayani bagai disambar petir di siang bolong. Ia tidak benar-benar percaya. Tetapi setelah ia mendengar penuturan Ayahnya akan kebenaran itu.  “Sebenarnya hal itu yang ingin aku ceritakan kepada Sayani, tapi lidahku terasa sangat kaku karena kebohongan yang selalu kupendam di sini. Aku pun pernah melakukannya, aku pernah membunuh bayiku sendiri ketika kami masih sering bermukim di ladang. Itu anak kedua kami, bahkan kami belum sempat member nama.” (Hal 22)
Kepada Ama Budi kepingan-kepingan masa lalu akan nasib seorang perempuan yang sangat dicintainya menyeruak kembali. Dua tahun berada diantara orang-orang yang masih memegang kuat adat istiadat dengan sejarah nenek moyangnya yang kental. Tak membuatnya serta merta mengubur masa lalunya yang kelam. Perkenalan yang manis dengan perempuan Banuaha, Saita yang berujung pada perpisahan yang menyakitkan. Perpisahan yang memilukan di pulau Nias membawanya kembali pulang.  “Kamu harus kembali ke langitmu, bukan langitku.” (Hal 186)
Ia rindu Jogjya. Ia rindu hiruk pikuk berada di kampus. Ia rindu Yasmin. *