Jumat, 23 Oktober 2015

Bogor dan Sebuah Harapan


Candu Bertualang
         Aku melepas kepergian pagi itu, Senin (19/10) dengan wajah berseri. Semangat yang menggebu nyatanya mampu meyakinkan emak merestui kepergianku ke Bogor.  Aku tak ingin membuat emak mengkhawatirkanku. Terlebih perjalanan kali ini aku menempuhnya seorang diri.

            “Meskipun kamu berbeda dari kebanyakan anak perempuan di luar sana. Tapi, ingatlah bahwa perempuan tetap perempuan.” Katanya sambil menjabat tanganku erat. Dalam beberapa detik hatiku terenyuh.  Dan hampir saja airmataku berhamburan. Namun, segera kutahan.

“Doakan uni ya, mak. Selamat sampai tujuan dan dimudahkan segala urusannya.” Pintaku. Emak mengangguk sambil mengelus punggung tanganku lembut. Hatiku semakin kebat kebit saat melepaskan pegangan tangan emak dan menjauh darinya beberapa meter. Kedua kakiku berkata lain. Aku pun berlari kecil menghampiri emak. Dan kulayangkan kecupan pada kedua pipinya.

Emak menghentikan memasak di dapur. Dan mengantarku keluar rumah.

“Sudah pamit sama Bapak?” Tanyanya di depan pintu.

“Bapak masih tidur.” Kataku sekenanya.

“Nggak apa-apa bangunin aja,”

Ya, emak selalu mengingatkanku untuk tidak melewatkan hal yang satu ini. Meminta restu pada bapak juga kakak keduaku. Baiklah, tibalah waktunya untuk aku berangkat. Kulihat jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Deru knalpot pun sudah memanggil-manggilku. Itu pertanda aku harus bergegas keluar dari rumah. Karena adikku sudah menungguku di luar.

“Berangkat dulu ya, mak. Assalamualaikum.”

“Hati-hati. Waalaikumsalam.”

Gang rumahku masih tampak lengang. Belum ada tanda-tanda anak sekolah dasar melintas. Biasanya mereka akan mewarnai jalanan kecil ini. Kedua tangannya menggenggam erat seplastik gorengan dan uduk atau dua mangkuk bubur ayam yang dibelinya untuk mengganjal perutnya yang kosong. Ketika sampai di perbatasan gang. Adikku semakin melajukan motornya kencang.

Ini bukan kali pertama aku melakukan perjalanan menggunakan kereta api ekonomi patas Merak. Justru karena banyak pertimbanganlah akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan alat transportasi umum ini lagi. Selain dapat menekan pengeluaran. Juga dapat mencairkan   kerinduan yang telah mengkristal dalam darahku. Berpetualang. Ya, semenjak skripsi selesai waktuku terenggut oleh segudang kegiatan mengajar.

Aku tiba di pintu gerbang stasiun tepat pukul 06.30 WIB. Dari pintu gerbang stasiun entah mengapa aku merasakan udara kebebasan. Darahku bergejolak saat wajahku diterpa angin yang melintas bersamaan dengan kedatangan ular besi di depan mataku. Aku hirup udara kebebasan itu sebanyak-banyaknya.

HUPP.

Aku memegang gagang besi pintu masuk gerbong.

“Akhirnya, setelah berjibaku dengan segudang aktivitas mengajar aku bisa menikmati bertualang kembali.” Selorohku dalam hati.

Teman Baru dalam Gerbong
Ketahuilah bahwa ketika kedua kaki ini melangkah menjauh dari rumah dengan tujuan yang baik, Insya Allah Tuhan akan membuka pintu-pintu lainnya untuk memudahkan perjalanan itu. Seperti perkenalan yang tanpa disengaja hari itu di dalam gerbong kereta.

Aku bersyukur bisa duduk sejajar diantara para perempuan. Bukan tidak mungkin sebenarnya, aku duduk berbaur dengan laki-laki. Namanya juga alat transportasi umum. Mana bisa kita memilih duduk dengan seseorang sesuka hati.

 Aku menyapa mereka dengan mengayunkan kepala sembari tersenyum simpul. Seorang bapak yang menyuruhku duduk di seberang pun tak luput dari sapaanku. Bapak itu kutaksir usianya 60 tahunan kembali kekesibukannya. Begitu pula dengan aku.

Aku belum ingin bertanya banyak pada seseorang di samping atau di seberangku. Aku sedang ingin menghabiskan beberapa menit merekam keindahan alam di luar jendela gerbong. Tiba-tiba telingaku mendengar seseorang menyebut Bogor. Seketika telingaku berpaling pada sumber suara. Pada seorang perempuan muda di pinggir jendela yang mengaku tengah kuliah di  di Pakuan.

Aku simak baik-baik setiap perbicangan itu. Sambil menahan rasa ingin tahu yang mulai menggunung di kepala. Alhamdulillah aku mendapatkan teman sebangku yang juga akan melakukan perjalanan serupa. Itu artinya aku tidak akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Selang beberapa menit kemudian, ketika suasana hening disaat itulah kugunakan membangun percakapan dengan perempuan di pinggir jendela gerbong. Kuutarakan beberapa pertanyaan yang mendesak-desak sedari tadi di kepalaku.

Bogor dan TBM Warabal
Akhirnya kami tiba di stasiun Bogor. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam akhirnya aku menginjakkan kaki di tanah perjuangan seorang pahlwan dari Pandeglang. Ia adalah Kapten Tubagus Muslihat yang mendedikasikan dirinya sebagai tentara PETA.

Kami berpisah di bawah jalan layang stasiun. Agnes akan melanjutkan perjalanan ke kampusnya. Yang ternyata angkutan kota (angkot) kami beda nomor.  

Terik matahari kian terasa saat aku keluar dari pintu gerbang stasiun.

Panas.

Kata itulah yang meluncur cepat dari bibirku. Bayanganku tertumbuk pada satu tempat yang mengundang tanya. Bukankah seharusnya sejuk karena di Bogor terdapat tempat yang mampu meredam hawa panas. Puncak. Ah, sudahlah.

Malam ini aku akan menginap di TBM Warabal. Pemiliknya adalah seorang perempuan hebat yang mendedikasikan dirinya pada dunia literasi. Aku memanggilnya dengan Bude Kis.

Bukan tanpa alasan mengapa aku menginap di TBM Warabal. Selain jarak tempuh ke Dompet Dhuafa lebih dekat juga aku ingin berbagi sedikit ilmu teater pada anak-anak di sana. Mungkin pelatihan teater dalam semalam itu tidak dapat berpengaruh besar terhadap perkembangan anak-anak binaan TBM Warabal. Tetapi, aku yakin sekecil apapun ilmu yang dibagikan pastilah bermanfaat. Insya Allah.

Dompet Dhuafa
            Bismillah. Aku berdoa lirih dalam hati.
          
         Aku melangkahkan kaki ke pintu masuk gerbang yang merupa seperti sekolah. Benar saja dari ujung gerbang masuk, mataku langsung menangkap beberapa siswa yang keluar masuk ruang kelas. Mereka mengenakan pakaian yang seragam.

“Mereka siswa SMART yang diperuntukan untuk SMP hingga SMA. Mereka datang dari segala penjuru kota di Indonesia. Mereka mengikuti kelas akselerasi 5 tahun dalam menempuh pendidikannya.” Papar Imam saat ditanya melalui akun BBMnya padaku.

Bersih dan rapih. Begitulah kesan yang kutangkap dari tempat itu. Sepertinya konsep bangunan hijau benar-benar diterapkan di sana. Berbagai pohon yang di tanam di tiap sudut mampu membuat hati dan jiwaku tenang.
         
         Hiruk pikuk siswa tak ubahnya seperti berada dalam pesantren modern. Hal itu kian kentara saat kedua kakiku tiba di pelataran masjid. Anak murid dan guru-gurunya begitu sibuk. Tiba-tiba aku tertarik dengan satu bangunan di seberang masjid. Bangunan hijau muda yang berdiri kokoh tepat di depan mataku.

“Aku pernah lihat banguan itu di Televisi.” Seruku dalam hati.

Tiba-tiba terlintas harapan besar dalam benakku. Menjadi bagian dari guru-guru yang dibentuk oleh Dompet Dhuafa dengan nama Sekolah Guru Indonesia. Tahun ini telah memasuki angkatan 15. Dan aku benar-benar ingin sekali mendedikasikan diriku untuk keberhasilan anak-anak yang jauh dari pusat kota. Yang minim informasi bahkan pendidikan yang semestinya mereka dapatkan tak ayal terlupakan. Harapan untuk menjadi seseorang yang membanggakan kedua orang tua dan menjadikan anak-anak di pelosok negeri agar berani bermimpi. Menjadi anak-anak yang dapat mengharumkan nama negerinya.

Pulang
Mak aku pulang. Aku tak bisa membelikan berbagai macam buah tangan. Yang sudah menjadi kebiasaan di rumah jika berpegian jauh selalu membawa oleh-oleh. Tetapi, manisan bogor yang terkenal di sana kubelikan setoples. Tidak banyak memang, semoga dapat dimaklumi.

Mak, waktu yang berjalan cepat tak dapat membuatku menikmati perjalanan ini. Jujur, ketika beberapa tempat yang bisa kulihat di televise hanya bisa dinikmati di dalam angkutan kota. Seperti angkot nomor 03 yang membawaku pulang. Angkot itu melintas di depan Istana Negara, Tugu Selamat Datang Bogor dan Kebun Raya aku hanya bisa mengabadikannya lewat foto. Dan aku merasa itu sudah lebih daripada cukup. Meski hanya melihatnya dari kejauhan dan di balik jendela angkutan umum.  

Mak aku pulang, membawa cerita yang mungkin takkan usai meski kuukir menjadi sebuah tulisan. Mak kecupan kemarin pagi masih terasa dibibirku. Mak peluk aku saat pintu rumah terbuka. Entah mengapa sesore ini airmataku luruh. (*)




Selasa, 29 September 2015

Manfaat Berkomunitas


Keputusan yang saya ambil kenapa terjun sebagai tutor teater di sekolah bukan karena tanpa alasan. Selain karena hobi, alasan lainnya adalah karena saya adalah mahasiswa tingkat akhir. Yang butuh suntikan dana lebih. Kebutuhan yang mendesak inilah, yang kemudian membuat saya merambah ke luar dari Rumah Dunia.

Berawal dari pelatihan teater yang diselenggarakan oleh SMAN 2 Kota Serang beberapa bulan lalu. Yang pada saat itu saya dengar, mereka kesulitan mencari narasumber sebagai pemateri. Lalu, dari informasi yang saya peroleh, akhirnya nama Rumah Dunia menggaung.

Sepanjang pelatihan itu, saya berusaha semaksimal mungkin memberikan ilmu teaterku pada mereka. Meskipun sempat terpikir akan keilmuanku pada dunia teater yang masih kurang di sana sini. Namun, semenjak tergabung sebagai anggota belajar di Rumah Dunia. Dan mengikuti kegiatan reguler kelas teater secara rutin semasa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, prasangka jelek yang merasuki pikiranku pun tergantikan oleh rasa percaya diri. Kini rasa percaya diri itupun kian berkembang dan mengalir dalam darahku. 

Bagiku, kegiatan yang sedang digeluti sekarang adalah hasil dari proses keterlibatanku beberapa tahun silam di Rumah Dunia. Rumah Dunia yang berkiblat pada sastra juga nasihat seorang pembesar agama Islam Umar bin Khattab keduanya saling mengikat.

“Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut menjadi pemberani.”
Jika Umar bin Khattab menyerukan secara tulisan agar anak-anak diajarkan sastra. Rumah Dunia menerapkannya dalam nyata. Kekuatan sepenggal kata yang ditorehkan Umar bin Khattab seperti termaktub dalam ragaku. Energi inilah yang mempengaruhi rotasi hidupku.

Saya merasa beruntung pernah menjadi warga belajar di Rumah Dunia. Meskipun ranah pekerjaan yang sedang kugeluti ini jauh dari jangkaun keilmuan di bangku kuliah. Tetapi, kenyataan bahwa keberanian itu datang berkat bergabung dan belajar di komunitas.

Lagi, Rumah Dunia seperti penghubung pintu rikziku. NikmatMu yang manakah kudapat mendustakannya. Setelah pelatihan teater itu, saya diminta menjadi tutor teater di SMAN 2 Kota Serang. Kemudian tawaran mengajar pun mengalir deras bagai air hujan dari berbagai sekolah dan mengajar private.

“Pandai-pandailah bersyukur.” Tegurku dalam hati.

Tak ayal rasa syukur yang kutunaikan padaNya menjadi sebentuk doa. Yang senantiasa meluncur di tiap Dhuha dan Tahajud-ku. Saya yakin, ketika nikmat yang datang silih berganti itu kusyukuri Allah akan semakin menambah nikmat lainnya padaku. Seperti dalam surat Ibrahim ayat 7: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kamu akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Semoga saya tergolong ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur pada Sang Maha Pemberi nikmat. Amin Ya Rabb.

Kamis, 10 September 2015

Belajar Memaknai Hidup dari Emak dan Bapak


Yaaah, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku, 
dan sedih karena kita sering berpisah 
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita 
Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih? 
Bahagia karena napas mengalir dan jantung berdetak
Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan
(Ws. Rendra-Pamplet Cinta)

Aku tak pernah menuntut apapun dari siapapun. Bahkan kepada kedua orang tuaku sekalipun. Bagiku, menuntut berarti meminta. Dan setiap permintaan adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi. Dan menyekolahkan anak hingga ke jenjang yang tinggi merupakan salah satu tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.

Gelar bapakku memang bukan berpangkat jenderal. Dan emak bukan ibu Negara yang baik pula pendidikannya.

“Bapak hanya tamatan SR, Nong. Tapi, bapak pernah mengajar di Sekolah Agama.” Kata bapak suatu hari padaku. Aku tersenyum simpul bila mengingat cerita itu. Pertanda bahwa aku pun turut bangga kepadanya. Meskipun dahulu SR (Sekolah Rakyat) adalah sekolah setara SD. Namun, kemampuan yang dimiliki bapak hingga bisa menjadi seorang pendidik patut kuapresiasi. Paling tidak, semangat mengajar yang sedang kujalani ini juga pernah dilalui oleh bapakku.

Lain halnya dengan emak. Emak memang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan sama sekali. Jika bapak bisa sampai sekolah setingkat SD tapi  tidak untuk emak.

Suatu hari emak bercerita padaku. Dia mengaku tak pernah menyesal jika kedua orang tuanya tak sempat menyekolahkannya. Sehingga, haknya sebagai seorang anak pun tak terpenuhi. Tak ada yang perlu disesali, sekalipun kedua orang tuanya telah meninggal lebih dulu. Dan emak dibesarkan oleh neneknya. Baginya, pelajaran tidak melulu diperoleh dari sekolah. Tetapi, sesungguhnya pelajaran itu bertebaran dimana-mana. Dan menjalani lika liku hidup merupakan bagian dari proses dimana dia memperoleh pelajaran  itu.

Memaknai hidup memang tak semudah yang kubayangkan. Kebahagiaan dan ketidakbahagiaan adalah dua hal yang tak pernah dihadapi oleh siapapun. Tetapi, ketika kumendengar perjuangan kedua orang tuaku tempo dulu. Aku pun belajar memaknai kehidupan itu dari sudut pandang yang berbeda. Apalagi ungkapan emak yang menyentil tentang seorang manusia.

“Jadi wong urip kuen lake enake. Uwis jadi wong sugih masih kurang, ape maning sing masih miskin.” Ungkap emak.

Ya, kebahagiaan seseorang di dunia yang dapat menjaminnya adalah manusia itu sendiri. Belum tentu mereka yang hidup berkecukupan akan berlimpah kebahagiaan. Pun sebaliknya.

Sentilan ini kemudian menyentuh mata hati dan batinku. Akan sebuah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Emak dan bapak memang tidak memberikan harta berlimpah padaku. Kucuran kebahagiaan yang mereka bagikan pada anak-anaknya terkadang tak sebanding dengan kehidupan mereka dulu. Seperti pada bidang pendidikan, aku menempuh dan memilih untuk meneruskan sekolah adalah caraku membahagiakan mereka. Tak peduli aku terjatuh dan bangun lagi untuk mendapatkan pendidikan itu. Kuyakini mereka mendoakanku. Dan mengharap yang baik-baik padaNya.

Dari emak aku belajar memaknai bahwa ilmu dapat ditempuh dan didapatkan darimana saja. Kepiawaiannya memasak dirasanya adalah hadiah terindah dari kedua orang tuanya kepadanya. Dan keahlian memijat yang diturunkan dari neneknya menjadi penyempurna kemampuan yang dimilikinya. Baginya, itu lebih daripada cukup untuk menebus ketertinggalannya dalam pendidikan.


Dari bapak aku belajar bahwa serendah apapun pendidikan yang ditempuh. Bukan berarti hidup yang nanti akan dijalani terhenti. Roda kehidupan manusia akan berjalan sebagaimana mestinya jika manusia itu mampu mengemudikanya.*

Senin, 31 Agustus 2015

Lelaki dan Perjumpaan


Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu! 
(Doa, Amir Hamzah)

Perjumpaanlah yang akan menyatukan mereka pada satu titik dimana ada cinta diantara mereka. Yang tengah bersemi dan dipupuk oleh doa. Ia masih menunggu perjumpaan manis itu. Perjumpaan dengan lelaki idamannya. Yang sampai detik ini masih tak dijumpai dalam nyata. Kini, perjumpaan dengan lelaki itu hanya tinggal angan. Sebab, hati diantara mereka tak lagi dapat dipertahankan. Lelaki itu selalu bilang bahwa hati manusia dapat dibolak-balikan olehNya. Dan lelaki itu telah membuka pemahamannya akan arti ketulusan sebuah cinta.
Mereka memang tak pernah saling mengikat satu sama lain. Tetapi, suatu ketika salah satu dari mereka mengutarakan keinginannya untuk menjalin hubungan. Yang pada akhirnya mereka memutuskan untuk taaruf. Perasaan itu lahir seiring berjalannya waktu. Dan itu diyakini bahwa perasaan yang diam-diam lahir dan tumbuh dihati mereka adalah naluriah karena kehendakNya. ‘Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.’ (QS adz-Zaariyat [51]: 49).
“Bulan depan, Abang akan sibuk sekali. Jadi, mungkin tidak bisa menghubungi adek atau sebaliknya. Maaf ya dek.” Lelaki itu menutup percakapannya. Dari seberang sana, kesibukan begitu kentara.  
Sejak saat itu, lelaki itu tak pernah memberinya kabar. Ia menghilang. Seperti pada malam-malam berikutnya, riuh suara di depan kamar tamu tak lagi terdengar. Dan,  perempuan itu masih menanti terleponnya berdering. Dan untuk kesekian kalinya, lelaki itu membuatnya resah dan patah hati.
Tiga bulan telah berlalu, namun si perempuan masih menanti perjumpaan dengan lelakinya. Ia dihantui oleh keresahannya. Akan ketulusan cintanya.
“Bodoh!” Ia merutuk dirinya sendiri. Berharap akan tumbuh kebencian dalam hatinya. Dan tak ada lagi kata cinta yang tulus untuk lelakinya. Sayangnya, itu tak terjadi. Di tengah kegundahan seperti malam itu. Hatinya meradang. Puncaknya adalah di saat kerinduan itu datang. Hatinya bagai dihantam oleh ombak. Di saat itulah ia akan memutar rekaman lelakinya yang tengah melantunkan ayat-ayatNya. Dengan begitu ia mampu meredam segala gejolak kemarahan, kebencian, dan kerinduanya yang berkecamuk dalam hatinya. Ayat-ayat yang dilantukan lelaki itu mampu membuatnya tenang. Ketenangan menjalar hingga nadinya. Hingga tak kuasa ia menitikan airmata.
Kebodohan yang dirasakan membuka penalaranya akan sebuah penafsiran bahwa sesungguhnya rasa cinta seorang manusia tak boleh melebihi pada Tuhannya. Betapa si perempuan menyesal akan ketulusan cinta yang lahir dalam dirinya.  
   Sekalipun penyesalan itu menghantuinya. Tetapi, ia percaya bahwa perkenalan dengan lelaki itu juga adalah kehendakNya. Tak ada perjumpaan dan perpisahan. Cinta yang tumbuh dalam beberapa bulan itu nyatanya mampu memberikan energi positif bagi si perempuan. Salah satunya adalah ingin menjadi perempuan yang sholehah di mataNya. Meski akhirnya cerita cintanya tak berakhir manis. Namun, tak sedikitpun berkeinginan melupakan kenangan manis itu bersama lelakinya. Rekaman mengaji adalah bukti bahwa rasa cintanya masih ada. Dan ia akan memupuknya lewat doa.

Kamis, 20 Agustus 2015

Mendadak Ngartis


“Udah kayak artis beneran aja.” Batinku sambil tersenyum simpul. Kata-kata itu tak sengaja terlontar dari mulutku selesai diwawancarai oleh Net TV. Lalu pikiranku melambung jauh dimasa lalu. Hal serupa yang telah terjadi padaku beberapa tahun silam. Dan itu masih sangat kental diingatanku meski sudah 11 tahun lamanya.


Sekitar tahun 2004, ketika Rumah Dunia sedang menggeliat. Dan anak-anak kampung Ciloang benar-benar terjangkit virus buku dan sastra. Lebih dari 100 anak-anak datang silih berganti, walau hanya untuk sekedar membaca atau terjun setengah hari mengikuti kegiatan yang ada di Rumah Dunia. Lalu, salah satu dari mereka menarik perhatian sepasang suami-isteri yang sama-sama menyukai dunia menulis.

Mimpi Sauni adalah novel anak pertama yang dibuat oleh Gol A Gong dan Tias Tatanka tahun 2004. Cerita itu terinspirasi oleh gadis kecil yang berjualan kerupuk mie dan telah menjadi anggota di Rumah Dunia. Meskipun waktu yang dimilikinya terbagi-bagi namun ia tak pernah mangkir sehari pun datang dan ikut ke dalam kegiatan reguler di Rumah Dunia. Mungkin hal inilah yang membuat sepasang penulis itu menuliskan kisah hidupnya dan mimpinya.


Gadis kecil berambut pirang yang tiap hari menjajakan kerupuk mie dan selalu meletakkan baskom di atas kepala adalah penggambaran dari tokoh Sauni yakni diriku sendiri. Meski cerita itu dibumbui dengan fiksi tetapi tetap saja tiap kali aku membacanya buatku berkaca-kaca. Dan aku juga masih ingat ketika buku Mimpi Sauni launching di Mall daerah Depok, seseorang mengatakan bahwa buku itu bagus untuk dibaca meski mengundang kesedihan.


Suatu hari sebuah televisi swasta RCTI meminta izin untuk meliput kegiatan keseharianku. Hasilnya akan ditayangkan pada program Jalinan Kasih begitu kata mereka. Kemudian disusul dengan pembuatan sinetron Mimpi Sauni yang dibintangi oleh para artis mulai dari papan atas hingga yang baru menjejaki dunia keartisan. Dengar-dengar artis yang menjadi pemeran di Novel Mimpi Sauni itu tidak dibayar pada produksi pertama. Kampung Ciloang benar-benar dibuat geger saat PH (production house) melakukan syuting lengkap dengan artisnya.


Peristiwa 2004 itu masih manis tuk kukenang. Indah memang. Aku pun sempat tidak mempercayainya bila jadi mendadak artis. Tenarnya nggak kalah dengan artis di ibukota. Bahkan ketika masuk SMP beberapa guru menyebutku artis.

Setelah melewati fase itu. Kini aku seperti mendadak artis lagi. Meski tidak buming seperti dulu. Satu hal yang kini kutakuti adalah ketika kesombongan itu menghinggapiku. Sungguh aku tak ingin kesombongan itu berada di dalam tubuhku. Aku tetap menjadi Sauni, tutor dan relawan Rumah Dunia.* 

Jejak

Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebahagiaan akhirat harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) maka harus dengan ilmu. (H.R. Thabrani)

“Aku pengen kuliah teh” Kata Iyah suatu hari padaku.
“Wah bagus tuh. Nanti untuk bayar form-nya nggak usah dipikirin. Insya Allah teteh bantu.” Sambutku dengan senyum mengembang. Jujur aku begitu bahagia mendengar adikku mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.  Semangat yang adikku perlihatkan tampak jelas. Di saat itulah aku teringat pada diriku sendiri beberapa tahun silam. Yang begitu bersemangat ingin masuk kuliah.
Aku sangat bersyukur karena jejak pendidikan yang telah kuukir di dalam keluargaku kini tak hanya aku. Adikku yang ke enam pun akan mengikuti jejakku. Dia seorang perempuan yang baik. Dialah yang akan menjadi penerusku selanjutnya. Meskipun status perguruan tinggi dan jurusan yang kami tempuh berbeda. Namun kami yakin, garis yang Tuhan buat untuk kami adalah garis yang  akan menuntun kami pada pintu yang dijanjikanNya. 
Aku tak pernah menyesal dilahirkan dalam keluarga yang mendidikku agar mengubur dalam-dalam rasa malu. Terlebih persoalan keuangan. Aku pun tak menyesali jika dalam perjalanan hidupku banyak halangan dan rintangan. Bagiku halangan dan rintangan itu adalah ujian yang Tuhan berikan agar membuat hamba-hambanya tak berhenti mengingatNya. Seperti dalam hadis Ushul Al-Kafi: 255, di hadis itu menyebutkan bahwa Allah Swt akan mengingat dan menyayangi hamba mukmin dengan mengirimkan masalah dan kesulitan. Inilah bukti kecintaanNya padaku. Bahkan dalam hadis yang sama Ushul Al-Kafi: 253, menegaskan ketika Allah Swt mencintai seorang hamba, maka ia akan ditenggelamkan dalam kesulitan.
Jika kutarik waktu ke 13 tahun ke belakang,  untuk sampai ke tahap ini, aku akui memang Rumah Dunialah yang berperan besar mengubah sejarah dalam hidupku. Rumah Dunialah yang telah melepaskanku dari rantai kemiskinan ketidakpercayaan diri ini. Krisis kepercayaan diri yang tertanam dalam diriku adalah ketidakmungkinan akan sebuah kenyataan pahit, bahwa bagaimana mungkin seorang anak yang bapak dan ibunya hanya berprofesi sebagai tukang ikan di Pasar Tradisional dan tukang urut bisa memutus rantai kemiskinan terutama dalam bidang pendidikan.
Aku masih ingat sekali, saat pertama kali menginjakkan kaki di Rumah Dunia. Saat itu, tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk melanjutkan sekolah, apalagi hingga ke jenjang perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang masih terjerat oleh paradigma bahwa pendidikan itu tidak penting dan biayanya mahal. Lalu keadaan kampungku berubah 180 derajat setelah adanya Rumah Dunia. Seiring berjalannya waktu kebiasaan anak-anak di Kampungku tergantikan dengan aktivitas di luar kebiasaan mereka. Salah satunya adalah membaca. Dari proses membaca inilah aku menemukan secercah mimpi yakni ingin mengubah strata keluargaku lewat pendidikan. Dan Allah pun merestui pilihanku seperti pada firmanNya, “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan.” (Qs. Al-Mujadalah:11).
Oktober mendatang, aku akan secara resmi menyandang gelar S.Pd. di belakang namaku. Bagiku gelar yang bakal mengisi pada namaku itu bukan sekedar gelar. Tetapi, terkandung doa yang besar. Doa anak seorang tukang urut dan penjual ikan menjadi pendidik yang tidak hanya mendidik tetapi juga menuntun agar peserta didiknya menjadi manusia yang bermoral dan berpribadian mulia. Semoga.*







Kamis, 12 Maret 2015

Belanda Tulen Berdarah Indo


         Membaca novel Remy Sylado seperti menemukan harta karun kata dalam tumpukan buku-buku sejarah yang dibiarkan usang dan teronggok di dalam kardus. Membaca novel ini pula tak ubahnya belajar bahasa asing. Karena saat membaca novel ini penulis menyisipkan dialog-dialog sederhana dengan berbagai dialek bahasa yang terkesan sengaja. Agar pembaca ikut menyelami alur cerita yang dibangun oleh Remy Sylado.

Novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan tebal 557 halaman. Sebagai pembaca, buku setebal itu tidak membuat pembacanya dirundung kebosanan. Apalagi hingga berujung pada suatu pilihan agar tidak melanjutkan bacaanya dan melirik ke bacaan lain.

Cerita mengalir dari seorang perempuan yang mengaku berdarah Indonesia yakni Mata Hari. Seperti pada halaman 9, “Aku Matahari. Aku pelacur tulen. Tapi aku penari sejati. Dan aku Belanda berdarah Indonesia.” Pada pembukaan cerita pembaca seolah digiring untuk mengenal siapa itu Mata Hari. Bagaimana kehidupannya? Dan apakah benar bahwa ia seorang pelacur? Mengapa ia memilih menjadi seorang pelacur? Lalu bagaimana bisa ia mengaku bahwa dirinya tak hanya berdarah Belanda tetapi juga berdarah Indonesia? Kesemua pertanyaan itu akan terjawab setelah kita membacanya.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Remy Sylado memang cenderung vulgar dan liar. Namun hal itu tidak sekonyong-konyong merusak rasa atau nilai estetika dari tulisannya. Hal itu dibuktikannya melalui kelahiran novelnya yang dicetak sampai dua kali.  Mungkin itu terletak pada kekuatan kata yang disuguhkan oleh Remy Sylado yang tak biasa. Penggalan-penggalan bahasa baik asing ataupun bahasa Indonesia yang jarang sekali digunakan di kehidupan sehari-hari bagai magic. Sehingga tak dapat dipungkiri pembaca dibuatnya jatuh cinta pada kata-katanya.

Remy Sylado ingin menyampaikan betapa kata yang dibikinya begitu bermakna. Seperti juga Mata Hari yang mendamba setiap kata dibalik bait-bait puisi. Bait-bait puisi romantis di dalam novel ini ditumpahkan Remy Sylado begitu indah. Baik itu hasil kutipan maupun buatanya sendiri. Setiap polemik kehidupan seorang Mata Hari tak terlepas dari puisi. Seperti pada kisah asmaranya dengan Maslov di puncak Candi Borobudur.

“Cintaku Mata Hari, jantung hati sayangAndai ada surya yang lebih terang dari namamuyang lebih ditunggu di musim winteryang lebih lama bersinar di musim somerjangan kasihkan pengharapan dengan katasenan laya gampang diucap pada malam harilantas dibuat ralat pada siang hariDatanglah kau dalam kenyangkumengisi laparku pada kemesraanKita bersatu dengan hati berpintu-pintudalam kesucian cinta yang tak terlafazkan.” (hal 499)

Namaku Mata Hari adalah novel yang berkisah tentang kehidupan di abad ke-19 hingga abad ke-20 Masehi. Margaretha Geertruida adalah nama asli Mata Hari. Ia adalah tokoh utama dalam cerita ini. Diusianya ke-18 tahun ia sudah memilih untuk menikah dengan seorang Opsir berkebangsaan Skot, John Rudolph MacLeod. Pernikahan itulah yang kemudian membawanya pulang ke tanah kelahiran ibunya Antje van der Meulen, Indonesia. Yang pada masa itu dijadikan sebagai Nederlandsch Indie, yang artinya Indianya Belanda atau dieja menurut bahasa melayu “Hindia Belanda” (13). Dan ia merekatkan tiap keping 
kerinduan pada tanah kelahiran Ibunya itu dengan menari.

Tokoh Mata Hari tercipta sebagai seorang perempuan yang memiliki dua kepribadian dan pekerjaan sekaligus. Ia mengakui mengapa menjadi seperti itu karena ulah suaminya. “Aku menjadi begini karena suamiku. Dialah yang mendorong aku berpikir cemar.” (Hal. 10).
Mata Hari bukanlah penari biasa sebab ia merangkap sebagai mata-mata rahasia. Remy Sylado menciptakan tokoh Mata Hari sebagai seorang perempuan yang berintelektual. Dalam hal ini Mata Hari dibekali dalam menguasai 7 bahasa sekaligus. Kemampuan bahasa yang dimilikinya menarik perhatian dua kubu yang sedang bersiteru. Menari dari satu negara ke negara lain dan melakukan diskusi bantal tanpa cinta dengan lelaki dari dua pihak kubu mampu mengharumkan namanya sebagai penari. Tentu diikuti oleh materi yang melimpah ruah begitu mudah didapatkannya.

Perjalanan hidup Mata Hari menjadi penari eksotik begitu yang diinginkan bila seseorang memanggilnya ketimbang menyebutnya penari erotik. Perjalanan Mata Hari menjadi kian dramatik saat ia kemudian dicekal oleh salah satu kubu bahwa ia telah berkhianat. Berkhianat seperti apa yang dilakukan oleh Mata Hari. Bacalah bukunya !(*)